Diambil dari @GoogleFacts di twitter. Sekedar selingan ringan daripada membicarakan POLITIK terus-menerus.
Sunday, February 1, 2015
Beberapa Tips Kecil, Selingan di Hari Libur Berhujan
Monday, June 9, 2014
Nostalgia
Jaman dulu, anak kelas 1 SD di kampung saya umumnya berangkat ke sekolah berbekal sangu 50 rupiah. Sekarang berapa ya? Jaman dulu, ongkos angkot di kota kelahiran saya 100 rupiah sekali jalan. Di masa kini, berapa ya? Jaman dulu, total biaya kuliah di kampus saya cukup 5 juta rupiah saja untuk 4,5 tahun. Sekarang sudah jadi berapa kali lipat ya? Mengingat kembali kisah unik di masa lalu? Itulah NOSTALGIA.
Secara teknis, Nostalgia adalah sikap sentimentil terhadap masa lalu, terutama terhadap waktu atau tempat yang secara pribadi mendatangkan kenangan bahagia. Istilah Nostalgia sendiri dicetuskan oleh mahasiswa kedokteran di abad 17 yang mempelajari fenomena masalah psikologis tentara bayaran Swiss yang berperang jauh dari rumah. Pada masa itu, istilah Nostalgia digambarkan serupa dengan 'homesick', alias kangen kampung halaman. Namun sekarang nostalgia dianggap salah satu bentuk emosi yang positif, berdasarkan sejumlah penelitian terbaru.
Nostalgia membangkitkan perasaan yang positif, memperbaiki mood. Itu salah satu hasil studinya. Nostalgia juga mengurangi perasaan kesepian. Dan nostalgia bisa membuat seseorang merasa dirinya berharga dan hidupnya punya arti.
Saturday, June 7, 2014
Refleksi Kelahiran dan Kematian
![]() |
| (blog.sevenponds.com) |
"Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkanlah dia, ampunilah kesalahannya, muliakanlah kematiannya, lapangkanlah kuburannya, cucilah kesalahannya dengan air, es dan embun sebagaimana mencuci pakaian putih dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, gantilah istrinya dengan istri yang lebih baik, hindarkanlah dari fitnah kubur dan siksa neraka." (HR. Muslim)
“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath. Al-Hafizh Nuruddin Al-Haitsami dalam Majmauz Zawaid wa Mambaul Fawaid, 10/158 no. 17267 menshahihkan sanadnya)
Tuesday, June 3, 2014
Pertandingan Balas Dendam
![]() |
| (http://sportige.com/the-best-champions-league-finals-in-history/) |
Tuesday, May 27, 2014
Juara tak Terduga
Pada kejuaraan piala Thomas dan Uber minggu lalu, sebenarnya tim Indonesia ditargetkan cukup tinggi. Tim Uber ditargetkan masuk final dan tim Thomas targetnya juara. Namun apa daya, tim Uber hanya sampai perempat final, tim Thomas hanya sampai semi final. Ternyata harapan yang digantung tinggi tidak akan mudah tercapai jika kapasitas dan kualitas masih pas-pasan.
Tim Uber kita dikalahkan oleh tim tuan rumah India yang memang punya kualitas di sektor tunggal. Tim kita seolah menganggap remeh India yang memang jarang jadi kekuatan dunia. Padahal jika mau berkaca di rangking dunia, pemain India levelnya lebih bagus. Intinya, meremehkan adalah kebiasaan buruk yang tidak pantas dilakukan oleh tim yang katanya kelas dunia.
Tim Thomas kita ditaklukkan oleh Malaysia, yang awalnya memang hanya pasang target hingga semi final. Padahal Malaysia punya pemain tunggal utama yang masih nomor satu dunia. Indonesia punya pemain ganda juara dunia, tapi ternyata mentalnya masih buruk. Mereka tidak bisa diharapkan untuk mencuri poin setelah tim tertinggal dari kekalahan tunggal pertama. Intinya, mental yang labil akan mudah digoyahkan oleh semangat nothing to loose. Malaysia nothing to loose karena mereka memang sudah mencapai target: maju sampai semi final.
Yang luar biasa adalah Jepang. Tim Uber Jepang masih belum mampu imbangi Tiongkok di final. Tapi tim Thomas mereka bisa kalahkan Tiongkok di semi final lalu kalahkan Malaysia di final. Selain faktor kualitas pelatihan mereka, ini juga cermin dari kesabaran mereka membina generasi muda. Potensi pemain muda mereka terus bermunculan, bahkan pemain yang sebelumnya hanya juara yunior langsung bisa bermain dan berperan penting di tim seniornya. Strategi pelan namun pasti berhasil mendobrak kekuatan tradisional yang hanya mengandalkan nama besar di masa lalu. Bravo!!
Sunday, May 25, 2014
(Siapa yang Tidak) Generalis atau Spesialis
Diskusi tentang metode kerja karyawan sering menyentuh satu topik: seberapa luas lingkup pekerjaan maupun pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukannya. Ketika seorang lulusan fakultas kedokteran baru saja memperoleh gelar dokternya, maka dia bisa bekerja sebagai General Practitioner (dokter umum). Setelah beberapa tahun kemudian, dengan pendidikan lanjutan dan pengalaman tambahan, dia bisa menjadi seorang dokter spesialis.
Di perusahaan, umumnya seorang karyawan memulai dari level bawah sebagai spesialis: spesialis komputer, spesialis akuntansi biaya, spesialis pembelian barang. Seiring bertambahnya pengalaman dan program pelatihan yang disediakan, mungkin dia akan berpindah menjadi generalis sedikit demi sedikit: supervisor, general manager, direktur utama. Tidak ada yang perlu dipertentangkan antara generalis dengan spesialis. Generalis perlu tahu banyak hal meskipun hanya kulitnya saja. Spesialis perlu tahu beberapa hal spesifik dan membedah keahliannya hingga masalah yang terperinci. Semua dibutuhkan, bahkan jika perlu menjadi Versatilis: punya spesialisasi tertentu, namun bisa menyesuaikan diri jika dibutuhkan di lingkup kerja yang ada di luar spesialisasinya. Inilah yang agaknya lebih dibutuhkan: kemampuan penyesuaian diri.
Berikut sedikit cerita tentang pedagang makanan yang terlalu 'fasih' akan spesialisasinya:
Penjual: "Silakan duduk Mas. Mau pesan apa?"
Pembeli: "Emang jualan apa aja?"
Penjual: "Ada lele goreng, bawal goreng, nasi goreng, ayam goreng, ayam bakar."
Pembeli: "Saya ayam bakar aja deh, satu."
Penjual: "Ayamnya dada apa paha Mas?"
Pembeli: "Paha aja deh."
Penjual: "Paha kiri apa paha kanan?"
Pembeli: (???) "Yang KANAN aja Mas, biar sopan." *kalem

