Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Wednesday, February 18, 2015

Gambar: Ujungnya Tembok China

@ThislsAmazing: Where the Great Wall Of China Ends pic.twitter.com/5gl3SKLbvi -- shared via UberSocial http://ubersocial.com

Tembok Besar China mulai dibangun sejak abad ketujuh sebelum masehi, namun sebagian besarnya dibangun pada masa kekaisaran dinasti Ming. Menurut sebuah survei arkeologi tembok besar ini termasuk seluruh cabangnya mencapai panjang 21 ribu kilometer. Bukan main!

Fungsi utama tembok besar dan super panjang ini adalah untuk menahan invasi dari suku-suku bangsa di kawasan Mongolia. Fungsi lainnya jadi semacam border control, tempat pengawasan imigrasi dan pemungutan cukai perniagaan dari pedagang yang melintasi Jalur Sutera.

Dan ngomong-ngomong, tembok besar ini tidak bisa dilihat dari bulan lho, berlawanan dengan asumsi yang sudah lama beredar. Lha wong diameter tembok ini hanya sekitar 9 meter. Inilah Tembok Besar China dari ujung ke ujung.

Wednesday, December 24, 2014

Sepotong Wisata Kuliner di Duren Tiga

Sepulang mengambil hasil pemeriksaan di lab Parahita di Mampang, kami menembus kompleks PLN Duren Tiga hingga masuk jalan raya Duren Tiga. Jalan ini sebenarnya penghubung antara kawasan Mampang Prapatan/Bangka/Kemang dengan kawasan Kalibata/Cikoko, Jakarta Selatan. Jalannya tidak terlalu panjang, mungkin 2-3 km. Bangunan yang mencolok mungkin hanya kompleks PLN, hotel Kaisar, rumah sakit Asri dan rumah sakit Duren Tiga.

Yang pertama kami singgahi adalah martabak Sinar Topping. Disini kami beli martabak dengan topping tebal berisi keju cokelat jagung. Banyak yang beli dalam partai besar dan bisa delivery order juga dengan nilai minimal tertentu. Katanya kalau sudah sore biasanya suka habis dan tidak jualan lagi. Hebat!! Mereka jualan martabak di siang hari dan tetap laris manis. Padahal gerainya hanya sebuah kios kecil di pinggir jalan raya Duren Tiga.

Berikutnya kami singgahi warung sate Ibu Yanti. Karena sudah jam makan siang, banyak karyawan yang makan siang disini. Pasien ataupun pembezuk di rumah sakit  bersalin Duren Tiga juga tinggal loncat ke sebelah jika ingin makan sate atau sop kambing. Sate kambingnya lembut gampang dikunyah. Sop kambingnya juga lembut dan segar.

Sunday, November 23, 2014

Apa di Balik Nama Produk IKEA

Kemarin dulu, istri saya sempat membeli beberapa produk dari IKEA Alam Sutera. Diantaranya adalah Pruta dan Rajtan. Nama-nama ini agak asing dan unik. Setelah berguru ke mbah gugel, barulah saya mengerti cerita di balik sistem penamaan itu.

IKEA sendiri adalah sebuah singkatan. Kepanjangannya adalah Ingvar Kamprad (nama pendiri), Elmtaryd (desa kelahiran si pendiri), Agunnaryd (desa di dekat desa kelahiran pendiri). Ternyata Ingvar Kamprad adalah seorang penderita disleksia. Mungkin dengan sistem penamaan ini dia bisa menghindarkan diri dari ketergantungan pada sistem penomoran angka-angka.

Beberapa aturan yang dipakai dalam sistem penamaan di IKEA antara lain:
-furnitur meja kursi: nama-nama tempat di Swedia
-tempat tidur: nama-nama tempat di Norwegia
-meja makan: nama-nama tempat di Finlandia
-peralatan kamar mandi: nama-nama danau, sungai dan teluk di Skandinavia
-karpet: nama-nama tempat di Denmark
-furnitur taman: nama pulau-pulau di Swedia
Tentu ada banyak pengecualian juga. Tapi ternyata ada lho yang mau bersusah payah membuat kamus tak resmi produk IKEA.

Kembali ke barang yang dibeli istri saya:
-PRUTA: kemungkinan dari bahasa Spanyol yang artinya "buah". Tidak terlalu aneh karena ini adalah paket 17 pcs food container beragam ukuran seharga 80 ribu Rupiah.
-RAJTAN: kemungkinan adalah bahasa slang berarti "berpesta". Aneh juga, padahal ini adalah 4 pcs tempat bumbu mungil transparan. Dimana pestanya?

Tuesday, November 18, 2014

IKEA Alam Sutera dan IKEA Tampines dan IKEA Damansara

Sekedar corat-coret sekilas kunjungan ke toko milik IKEA di tiga negara bertetangga.

1. IKEA Alam Sutera lokasinya di luar kota Jakarta, tepatnya Tangerang, propinsi Banten. Menuju kesana, salah satu rutenya adalah melewati jalan tol dalam kota lanjut ke tol arah Merak, exit di pintu tol Kunciran/Alam Sutera. Sementara IKEA Tampines lokasinya juga cukup jauh dari pusat kota Singapura (asumsi pusat kotanya kawasan Orchard ya, hehe) dan salah satu rutenya juga melewati highway. IKEA Damansara berlokasi di Petaling Jaya, negara bagian Selangor dan dapat pula diakses melewati jalan tol. Sepertinya manajemen IKEA global memang punya konsep sendiri mengenai penempatan lokasi disamping tujuan ekonomis seperti penghematan dengan mencari lokasi yang cukup lega secara ukuran maupun secara bujet.

2. IKEA Alam Sutera relatif butuh waktu untuk dijangkau menggunakan transportasi umum. Dalam catatan saya, rute angkot maupun bus dari arah Jakarta (Agra, Mayasari, dll) hanya sampai di bunderan Alam Sutera. Memang sudah tersedia free shuttle Suteraloop yang menghubungkan gerai IKEA dengan Mall Alam Sutera dan bunderan Alam Sutera, yang mana ada di kawasan real estate yang sama. Menurut saya ini masih bisa ditingkatkan, karena jika ingin memudahkan orang dari arah Jakarta kesana, mereka bisa menyediakan free shuttle ke stasiun KRL terdekat, misalnya stasiun Serpong. Yang mau ke IKEA Alam Sutera dari Jakarta tentu saat ini masih lebih nyaman membawa kendaraan pribadi atau naik taxi. Dibanding IKEA Tampines, perbedaannya sedikit saja. Disana disediakan FREE shuttle bus sebagai penghubung antara gerai dengan stasiun MRT maupun terminal bus terdekat. Kombinasi antara naik MRT disambung menumpang free shuttle jelas lebih baik dan lebih hijau. Disamping mengunjungi IKEA Tampines, konsumen bisa sekaligus berkunjung ke GIANT dan COURTS Megastore karena bersebelahan. Sementara itu IKEA Damansara bisa diakses dari Kuala Lumpur dengan bus maupun LRT. Jika menggunakan LRT, kita bisa menaiki free shuttle bus yang tersedia di salah satu stasiun menuju Ikano Power Center yang memang satu kompleks dengan IKEA dan Tesco.

3. Memasuki toko raksasa IKEA Alam Sutera, kita akan diarahkan untuk naik ke lantai atas mengunjungi showroom terlebih dahulu. Konsumen akan disuguhi tampilan interior semisal ruang keluarga, dapur dan ruang makan, kamar tidur maupun toilet, lengkap dengan segala produk jualan IKEA yang ditata rapi. Konsumen bisa melihat bagaimana perabot-perabot dipadupadankan dan ditempatkan pada posisi yang seharusnya. Cukup membantu bagi yang tidak tahu bagaimana menata interior rumah. Konsep yang sama juga kita dapati di IKEA Tampines maupun Damansara. Setelah lelah mencoba, menyentuh, memandangi tatanan interior yang dipamerkan di showroom, kita akan diberi pilihan: mau mampir dulu ke restoran, atau lanjut ke lantai bawah memilih barang yang akan dibeli di rak-rak ruangan berkonsep warehouse lalu menyelesaikan urusan di kasir. Nah, kalaupun ada keluhan, itu sebatas ibu-ibu yang biasa belanja di Singapura atau Malaysia yang tidak menemukan barang yang sama di Indonesia. Artinya, soal kelengkapan produk, IKEA Alam Sutera masih bisa ditingkatkan agar lebih lengkap dari IKEA Tampines atau IKEA Damansara.

4. Banyak sekali pengunjungnya IKEA Alam Sutera ini. Mungkin karena masih baru, masih jadi trending topic. Akibatnya, tentu lebih susah untuk menikmati kebebasan memilih barang disana. Gerainya dibuat sedemikian rupa agar konsumen mengikuti alur belanja yang sudah ditentukan dan melewati semua zona kelompok produk yang ditawarkan. Jika kita teringat barang di zona sebelumnya yang sepertinya menarik dan menjelang sampai di kasir kita jadi kepikiran untuk membelinya, butuh usaha ekstra untuk berbalik arah menembus arus pengunjung yang mengalir di jalur belanja. Pengunjung IKEA Alam Sutera sangat ramai terutama di hari libur. Kesannya jadi lebih sesak dan petugas kebersihan jadi harus bekerja keras pula. IKEA Tampines ataupun IKEA Damansara pun punya desain alur belanja yang nyaris sama persis. IKEA telah menempatkan dirinya bukan saja sebagai gerai swalayan furnitur besar, tapi juga obyek wisata belanja tampaknya.

Posting terkait: http://retakgading.blogspot.com/2014/11/apa-di-balik-nama-produk-ikea.html?m=1


Sunday, August 3, 2014

Apa yang Dicari Perantau Asal Kota Bengkulu, Saat Mudik?

Orang Bengkulu yang merantau ke tempat lain, misalnya Jakarta, umumnya akan merindukan beberapa ikon kota asalnya. Ini hal umum yang terjadi pada perantau dari manapun. Lalu apa yang dikunjungi oleh perantau asal Bengkulu saat pulang kampung?

1. Pantai Panjangggggggggggggggggg............
Pantainya memang panjang, berkilo-kilometer. Umumnya dibagi menjadi 2 zona: zona rekreasi dan zona nelayan. Di zona nelayan bisa dijumpai banyak perahu nelayan dan gubuk-gubuk penjual ikan, terutama ikan asin. Di zona rekreasi, kebanyakan penghuninya adalah pedagang kelapa muda yang menguasai lahan pantainya masing-masing dan nyaris menutupi hampir sepanjang bibir pantai, serta bisnis seafood dan permainan air seperti banana boat.
Kebersihan adalah kekhawatiran utama mengingat masih buruknya kesadaran pengunjung untuk menjaga kebersihan. Sampah adalah kesan pertama yang akan dijumpai sejak pertama memarkir kendaraan di tepi jalan hingga berjalan diatas pasir menyisir tepi lautan. Tak ada gunanya memaki pemerintah lokal karena mereka sepertinya juga tak punya ide bagaimana mengelola lokasi wisata sebagaimana seharusnya. Dengan korupsi terstruktur yang sudah mendarah daging di daerah yang PNS-sentris seperti Bengkulu ini, tak aneh melihat pembangunan fisik di satu tahun akan diikuti kerusakan parah di tahun berikutnya.
Sementara itu, pantai akan terus tergerus oleh abrasi. Bibir pantai semakin tipis, jauh lebih tipis dari yang saya ingat sekitar 20 tahun lalu. Jangan berkunjung ke pantai ini saat masa libur lebaran, kecuali Anda memang menyukai keramaian tak tentu arah. Di luar masa liburan, Anda akan bisa lebih menikmati keindahan pantai ini, di pagi dan sore hari. Kita bisa pula menyisir pantai ini dari ujung ke ujung dengan kendaraan, lokasi jalan beraspal hanya maksimal 100 meter saja jauhnya dari tepi lautan.

2. Danau Dendam Tak Sudah
Ini adalah danau buatan Belanda. Nama aslinya De Daam, namun dengan keluguan bangsa kita di masa lalu, ditambah kegenitan untuk mengaitkannya dengan cerita-cerita fiktif pengantar tidur, jadilah namanya seperti sekarang. Sayangnya akses utama ke danau ini hanyalah di satu sisi yang panjangnya mungkin hanya sekitar 200-300 meter saja. Tambahan lagi, sepanjang tepi danau yang bisa diakses ini hampir keseluruhannya sudah tertutupi oleh pondok-pondok kecil milik pedagang kelapa muda (lagi!!). Sebenarnya ada akses lain ke tepi danau ini yang masih alami, belum dibangun apapun. Namun, saking alaminya, kita pun harus melewati jalanan kampung yang masih buruk. Saya pun belum pernah melewatinya. Sayang sekali, kemampuan masyarakat, apalagi pemerintah lokal, dalam mengolah apa yang dimiliki memang masih buruk, jika tidak boleh dibilang 'memalukan'. Ini adalah danau buatan, sekali lagi, BUATAN. Jadi mestinya sedikit rekayasa kecantikan bisa dilakukan untuk membuat danau ini lebih ramah wisatawan. Tapi, untuk membuat jogging track mengitari danau ini saja mungkin mereka belum terpikir. Sementara itu, eceng gondok akan terus menjadi musuh yang mengintai untuk menutupi permukaan airnya, mematikan kecantikannya.

3. Benteng Fort Marlborough
Yang selalu dibanggakan oleh orang Bengkulu adalah sejarah masa lalu saat pernah dijajah oleh petualang Eropa. Inggris pernah menguasai Bengkulu (serta semenanjung Malaya). Namun di saat bersamaan, Belanda menguasai hampir keseluruhan pulau Sumatera (kecuali Bengkulu tentunya), dan pulau kecil bernama Singapura. Untuk memudahkan operasi bisnis mereka, maka kedua petualang ini pun membuat perjanjian bersejarah, tukar guling Bengkulu dengan Singapura. Maka Belanda akhirnya menguasai keseluruhan pulau Sumatera, sedangkan Inggris menguasai Malaya dan pulau Singapura sebagai basis pelabuhannya. Banyak orang Bengkulu berandai-andai, jika masih dijajah Inggris, Bengkulu mungkin sudah semaju Singapura sekarang, jadi anggota organisasi Persemakmuran pula. Sebuah impian palsu mengingat rendahnya mutu SDM mereka sejak kemerdekaan 1945.

Benteng ini cukup besar, berisi beberapa kuburan, barak-barak, ruang-ruang penjara, terowongan dan meriam-meriam. Dari puncak benteng ini kita bisa melihat laut dengan pandangan yang lepas tanpa halangan, termasuk perahu-perahu nelayan yang bersandar di pelabuhan perikanan Tapak Paderi.

4. Masjid Jamik Bengkulu
Keunikan utama masjid ini menurut hemat saya hanya pada sejarahnya yang dirancang oleh salah satu insinyur teknik sipil angkatan pertama di Indonesia: Ir. Soekarno. Saat ditangkap dan diasingkan oleh Belanda ke Bengkulu, Bung Karno bukan sekedar dipenjara dalam sel-sel dingin benteng Marlborough. Beliau masih diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal, bahkan menikahi perempuan asli Bengkulu, Fatmawati. Bukan hanya itu, beliau juga membantu pembangunan masjid jami' yang letaknya di pusat kota itu.

Saat ini, masjid jamik Bengkulu berada di tengah-tengah persimpangan jalan yang menghubungkan kawasan Simpang Lima/jalan Suprapto dengan Kampung Bali dan Fort Marlborough. Ukurannya mungkin cukup besar untuk ukuran masa lalu, namun sudah kalah oleh Masjid Raya dan Masjid Akbar Bengkulu di masa kini.

5. Kawasan Belanja Oleh-oleh Anggut
Letaknya diantara Simpang Lima dan lokasi wisata Rumah Peninggalan Bung Karno. Sejak dulu, LEMPUK adalah oleh-oleh andalan dari Bengkulu. Dodol yang terbuat dari campuran buah durian ini tidak terlalu khas Bengkulu sebenarnya. Makanan dengan nama sama bisa dijumpai di Palembang, Jambi, bahkan sebagian Kalimantan. Kebanyakan makanan yang dijual sebagai oleh-oleh adalah juga produk khas daerah lain, misalnya kerupuk dan kemplang Palembang. Begitu pula tekwan, pempek, kue baytat, manisan terong. Mungkin keripik Beledang yang lebih khas Bengkulu.
Batik Besurek adalah produk garmen khas Bengkulu. Sesuai namanya, Batik ini punya kekhasan dalam motif yang cenderung membentuk huruf Arab.

6. Tradisi Tabot
Menjelang tahun baru penanggalan Hijriah (1 Muharram), mulai muncul persiapan-persiapan menjelang perayaan upacara Tabot. Konon ceritanya tradisi ini dibawa oleh imigran dari Irak, dan merupakan peringatan atas terbunuhnya dua cucu Rasulullah SAW dalam tragedi yang dikenal sebagai peristiwa Karbala. Di masa kini, tradisi berbau Syiah ini justru dilestarikan oleh pemerintah daerah Bengkulu mengingat tidak banyaknya agenda tradisi budaya yang dimiliki warga lokal. Tabot direpresentasikan oleh bentuk-bentuk tugu berhias yang diarak keliling kota, dipajang, lalu dibuang ke rawa-rawa di daerah yang juga dinamai 'KARBELA' di tengah kota Bengkulu.

Friday, August 1, 2014

Ramadhan 1453H di Seputar Kampong Glam, Singapore

Beberapa gambar yang merekam suatu hari di bulan Ramadhan 2014, di seputar Haji Lane, Masjid Sultan, Kampong Glam, Bugis, Singapore.

Singapore Botanic Garden, Dalam Gambar

Baik dari sekitar Orchard Road mapun kawasan Bugis, Botanical Garden bisa dijangkau dengan bis. Turun di depan rumah sakit Gleneagles lalu menyebrangi jalan. Lokasi ini gratis dan favorit untuk berolahraga maupun sekedar menghirup udara segar hutan dalam kota. Taman Anggreknya bagus dan terawat sangat baik.

Berkunjung ke Garden by the Bay, Singapore

Saat merencanakan daftar tempat untuk dikunjungi di Singapura, istri saya mengusulkan Garden by the Bay. Mengapa? Karena beliau pencinta bunga dan Singapura sepertinya menyediakan sarana wisata yang menyentuh semua kecenderungan minat wisatawan. Apalagi kalau bukan karena uang yang melimpah dan harapan akan return on investment yang cerah pula.

Jadilah saat itu tiba, kami berangkat dari stasiun MRT Bugis. Karena pengetahuan yang minim, kami mengikuti saja peta jalur MRT yang ada. Pertama-tama naik kereta jurusan Joo Koon, turun di stasiun City Hall. Lalu naik jurusan Marina Bay, turun di Marina Bay. Lalu ikuti petunjuk yang menurut saya masih berkelok-kelok, naik turun eskalator, hingga sampai di kereta menuju stasiun Bayfront. Saya bilang 'berkelok-kelok' karena jalur ini masih baru, dan ternyata oh ternyata, jalur ini bisa shortcut ke stasiun Bugis!!

Turun di Bayfront, ikuti jalur ke kanan yang cukup panjang dan lega hingga sampai ke tangga kearah kiri. Ternyata untuk sampai ke permukaan tanah (iyalah, stasiun MRT ya dibawah tanah), ada dua pilihan: naik tangga (cuma satu-satunya) atau naik lift (juga cuma satu-satunya). Namanya juga stasiun baru, infrastruktur mungkin masih dalam tahap pembangunan, tapi sudah boleh dipakai untuk mereka yang ingin ke Garden by the Bay maupun Marina Bay Sands, dan cukup membantu para turis.

Waktu terbaik untuk kesini adalah siang hari, agar kita bisa selesaikan kedua wahana (flower dome dan cloud forest) tepat sore hari. Berkunjung di malam hari tidak menghasilkan view yang cukup terang untuk pemotretan. Ngapain juga nonton bunga dan hutan di malam hari?! Di malam hari, suasana justru lebih menyenangkan di luar, langit bermandi cahaya dari kasino, sky walk, singapore flyer, bersantai di tepi sungai. Banyak pula yang bersepeda atau sekedar berjalan-jalan.

Pulangnya, barulah kami sadar bahwa ada jalur MRT baru yang melayani langsung antara Bayfront dan Bugis. Lebih cepat, hanya 2 stops.

Tuesday, July 29, 2014

Berkunjung ke IKEA Tampines Singapore

Istri saya berharap bisa ke Ikea jika sedang ada di Singapura. Nah, kebetulan bulan puasa itu kami berkesempatan kesana. Jadilah kami menyempatkan diri, walaupun sudah terbayang letihnya berjalan-jalan sambil puasa.

Dari hotel kami jalan kaki menyusuri Victoria Road menuju stasiun MRT Bugis. Lalu naik kereta tujuan Pasir Ris dan turun di stasiun MRT Tampines. Keluar stasiun ini, mulanya kami bingung mau kemana. Jalan kaki dari pintu masuk lurus kearah pusat perbelanjaan, kami malah bertemu terminal bis. Akhirnya kami balik kanan kearah sebaliknya. Ternyata keluar dari pintu stasiun, kami seharusnya belok kanan dan kanan lagi (jangan masuk mall). Di dekat parkiran sepeda, di depan Northeast (Tampines) Medical Center, sudah menunggu BIS GRATIS menuju Giants/Ikea/Courts. Alhamdulillah kami sampai di MRT Tampines jam 10 pagi, jadi bisnya masih sepi. Perjalanannya mungkin hanya sekitar  15 menit, melewati beberapa sudut wilayah Tampines.

Giants/Ikea/Courts ada dalam satu kompleks. Seturunnya kami di depan pintu Ikea, langsung naik eskalator menuju lantai showroom. Showroom ini mempertontonkan rancangan ruang tamu, ruang tidur, kamar mandi, kitchen set yang diisi produk-produk Ikea. Sesuai kebiasaan warga Singapore yang kebanyakan tinggal di HDB (apartemen), rancangannya cukup efisien dan berusaha sehemat mungkin mengambil ruang. Di lantai yang sama sebenarnya juga ada food court yang katanya menyajikan makanan khas Ikea: meatball. Tapi karena lagi puasa, ya kami tidak sempat mengeksplorasi lebih jauh.

Lantai dibawahnya menjual aneka ragam perkakas rumah tangga. Keset, seprei, sapu, sendok, piring, bantal, meja, dan sebagainya, lengkap dengan nama yang khas Swedia dan juga nama perancangnya. Itulah ciri orang Eropa yang menghargai desain dan desainernya. Sempat bingung di depan kasir, ada kasir yang khusus kartu kredit, kasir yang self-service (customer sendiri yang baca barcode dan gesek kartu kredit), dan kasir yang normal. Sekitar jam 12 siang kami sudah duduk di tempat menunggu bis. Ternyata shuttle bus ke Ikea bukan hanya dari MRT Tampines, tapi juga ada yang ke MRT Bedok dan Pasir Ris. Bis ke MRT Tampines cukup penuh, jadi kami berdiri saja sepanjang perjalanan. Sesampai di stasiun MRT Tampines, ternyata bis ini sudah ditunggu oleh antrian calon penumpang yang mengular panjang. Ternyata oh ternyata, kalau hari minggu seperti ini banyak yang suka memanfaatkan bis gratis untuk berkunjung ke kompleks wisata belanja Giants/Ikea/Courts.

Sebelum naik kereta lagi ke Bugis, kami menyempatkan diri melihat sekeliling stasiun MRT Tampines. Di sebelah sedang ada bazaar ramadhan, menjual makanan dan minuman untuk berbuka, buah-buahan, dan casing smartphone!!

Thursday, July 24, 2014

Puasa di Singapura, Berbuka, Bersahur

Beberapa hari menginap di Singapura, membuat saya harus bersiasat menjalankan ibadah puasa. Meski ada pendapat tentang rukhshah bagi traveller alias musafir, saya tetap berusaha menjalankan puasa. Bagi yang sudah terbiasa puasa, sebenarnya kondisi sulit pun akan terlihat biasa saja dan puasa tetap terasa enteng. Yang penting buka dan sahur mengikuti sunnah Nabi SAW: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur.

Saat check in di hotel di kawasan Scotts Road, resepsionis menanyakan apakah saya ingin breakfast biasa atau bersahur. Maka saya jawab saya ingin bersahur. Ternyata hotel ini menyediakan menu lebih dini agar para tamu muslimnya tetap bisa sahur. Makanannya pun tidak jauh dari standar buffet yang mereka sediakan saat breakfast normal. Jadilah saya bangun jam 4 pagi dan turun ke restoran hotel untuk makan sahur diiringi siaran radio Melayu.

Saat meeting di kantor, waktu rehat dipakai untuk acara minum kopi dan makan siang bagi mayoritas non-muslim dan yang tidak puasa. Panitia sebenarnya menawarkan untuk membawa pulang menu makan siang itu, namun kami menolaknya dengan halus karena sudah punya rencana lain untuk berbuka puasa. Kebetulan istri ikut serta, maka dia sempatkan berkeliling sekitar Orchard Road mencari makanan berbuka. Sebelum sholat tarawih di Masjid Al-Falah, bagian samping belakangnya Paragon, kami sempatkan makan Ayam Penyet Ria di lantai dasar Lucky Plaza.

Saat jalan-jalan ke beberapa obyek wisata, tentu saja cukup banyak energi terkuras, dehidrasi melanda. Yang penting sebenarnya tidak ngoyo. Jika mulai merasa kepayahan, cari saja tempat duduk, istirahat dulu. Stabilkan proses di tubuh. Jika sudah lebih segar, baru lanjutkan jalan-jalannya. Di banyak tempat wisata seperti Botanical Garden dan Garden By The Bay, di dekat toilet biasanya tersedia kran air minum. Jadi dari hotel kami sudah membawa botol air kosong untuk diisi jika bertemu kran itu. Tentu saja diminumnya setelah waktu berbuka tiba.

Waktu sholat Singapura tersedia di website dan aplikasi MUIS (http://www.muis.gov.sg/cms/index.aspx). Itu akan cukup membantu kita menentukan waktu bolehnya berbuka dan batas akhir sahur. Ingat, disini susah untuk mengharapkan mendengar azan atau suara beduk. Kecuali tinggalnya di sebelah masjid.

Di sekitar Masjid Sultan, banyak pedagang makanan berbuka puasa. Banyak warga Singapura dari mana-mana datang ke  bazaar di depan pintu masjid ini. Setelah mereka mendapatkan makanan yang diinginkan, mereka pulang dengan mobil, dengan bus, ke rumah masing-masing. Makanannya cukup beragam. Istri saya sempat beli otakotak, burger, dan kebab. Cukuplah untuk buka puasa dan sahur. Di North Bridge Road cukup banyak restoran Minang. Sabar Menanti bisa jadi salah satu pilihan untuk makan malam sebelum tarawih.

Wednesday, July 23, 2014

Banyak Masjid dan Musholla, Sholat di Singapura Jadi Lebih Mudah

Mengapa bisa ada artikel khusus soal 'sholat di Singapura'? Karena, bisa menemukan tempat sholat di Singapura seperti kenikmatan yang tak terkira. Selama beberapa hari bertugas disana, saya sempat mengunjungi beberapa tempat sholat yang bisa di-share: 

1. Masjid Al-Kaff Upper Serangoon
Posisinya di ujung jalan Pheng Geck Avenue. Keluar dari stasiun MRT Potong Pasir, susuri jalan kearah kanan, lurus lalu belok kanan lagi, jika bertemu perempatan kecil maka belok kiri. Nanti akan kita temui di kanan jalan, sebuah masjid yang baru saja direnovasi. Disini saya sempat sholat Jum'at di tengah masa rehat meeting di kantor. Lokasi masjid ini sebenarnya adalah kawasan perumahan. Tapi di sekitarnya, terutama di pinggir jalan besar seputar stasiun MRT, sedang dibangun beberapa blok mall dan hotel. Imbasnya, masjid ini sangat penuh saat sholat Jumat, terutama oleh pekerja bangunan yang banyak berasal dari Asia Selatan. Di bulan Ramadhan ini, selesai sholat Jumat ada pembagian bubur yang sudah dikemas dalam mangkok plastik, mungkin maksudnya untuk dimakan masing-masing saat berbuka.

2. Masjid Al-Falah Somerset
Posisinya di jalan Bideford Road, ancar-ancarnya dari Orchard Road adalah mall Paragon, lalu susuri jalan disamping Grand Park Orchard menuju area belakang. Masjidnya 2 lantai, lantai mezzanine diatas untuk jamaah perempuan. Dari hotel tempat menginap saya harus melewati jembatan penyebrangan menuju Far East Plaza, lalu jalan mengitari Scotts Square dan Marriott Hotel, melewati Tang Plaza, Lucky Plaza dan Paragon lalu belok kiri untuk mencapai masjid ini. Tapi inilah masjid favorit pelancong muslim yang sedang berada di sekitar kawasan Orchard Road. Saya sempat ikut sholat tarawih disini. Bacaan imamnya bagus dan jumlahnya 23 rakaat. Semua kipas angin menyala dengan kencang, maka saya tak bisa bayangkan betapa gerah andai tak ada kipas angin.

3. Masjid Darul Aman Eunos
Lokasinya di Eunos Road, tidak jauh dari stasiun MRT Eunos. Saya kebetulan akan menjemput istri di bandara sepulang dari meeting. Jadi dari Jalan Kolam Ayer saya naik bis nomor 966, lalu 3 halte kemudian saya turun, jalan kaki melewati Vihara Buddha, perempatan dan lapangan rumput, dan sampailah di masjid yang arsitekturnya cukup bagus  ini. Seperti biasa, di sore hari bulan Ramadhan, banyak orang datang ke masjid untuk berbuka bersama. Duduk berjejer sambil menunggu hidangan buka puasa disajikan. Karena harus bergegas ke Changi, saya hanya sempat sholat Ashar, lalu langsung berangkat lagi ke stasiun MRT Eunos yang hanya beberapa ratus meter saja jaraknya.

4. Masjid Sultan Kampong Glam
Lokasinya diantara North Bridge Road, Muscat Street, Arab Street dan Kandahar Street, di kawasan wisata tak jauh dari Bugis Junction. Menjelang waktu berbuka puasa banyak penjual makanan menggelar lapaknya dan diserbu oleh banyak pengunjung, baik wisatawan maupun warga Singapura yang mencari makanan seperti Nasi Briyani, kebab, otak-otak, dan sebagainya. Masjidnya cukup megah berarsitektur kontemporer, lantai atas dipakai oleh jamaah wanita. Sholat tarawih 23 rakaat dan bacaan imamnya juga bagus. Kipas angin sekelas baling-baling helikopter tergantung di langit-langit. Banyak jamaah yang menghadiri qiyamullail dan bersahur di masjid ini.

5. Beberapa Musholla
-Musholla di Siemens Center Macpherson Road. Posisinya di dalam gedung depan, lantai 1, di dekat janitor, namun harus melewati beberapa meeting room, hanya muat untuk 3-4 orang tanpa sekat pemisah jamaah perempuan.
-Musholla di Royal Plaza On Scotts Hotel. Masuk ke lobby hotel, ketemu meja resepsionis belok kanan, ikuti tangga. Sudah ada sekat pemisah jamaah perempuan.
-Musholla Changi Airport, Departure Terminal 3. Setelah lewati imigrasi, lihat petunjuk arah prayer room. Belok kiri, lewati toilet, belok kiri lagi (lokasinya cukup tersembunyi). Tempat sholat dan wudhu jamaah laki-laki dan perempuan sudah terpisah.