Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, May 10, 2015

Pilot Kulit Hitam Pertama dari Angkatan Udara Turki Usmani

@OttomanArchive: [Ottoman Empire] Ottoman Pilot Ahmet Ali Effendi World's First Black Pilot 1916 His Grandmother from Bornu (Nigeria) pic.twitter.com/cOO7bq9n9b -- shared via UberSocial http://ubersocial.com

Inilah dia, pilot pesawat kekhilafahan Turki Usmani. Namanya Ahmet Ali Effendi. Dia menerima Wing penerbang sekitar tahun 1914-1915, berarti lebih dulu daripada Eugene Jacques Bullard yang menerima brevet penerbangnya pada tahun 1917. Keduanya berpartisipasi di perang dunia pertama. Tak banyak informasi mengenai Ahmet Ali Effendi. Tak seperti Eugene Jacques Bullard yang justru banyak disebut orang di masa kini dan hidup miskin di akhir hayatnya.

Thursday, April 2, 2015

Makkah, di Akhir Abad XIX

@HistoryOttoman: A View of The Ka'aba and Surrounding Buildings in Makkah, 1893 (Mekke, 1893) #OttomanEmpire pic.twitter.com/b5NH8l4LwG -- shared via UberSocial http://ubersocial.com

Ini adalah pemandangan seputar Ka'bah yang dikelilingi pilar-pilar yang dibangun oleh khilafah Turki Usmani. Sekarang sebagian pilar akan ditata ulang menyesuaikan dengan perluasan Masjidil Haram.

Friday, February 27, 2015

Swasembada Beras, Warisan Soeharto

Kesamaan Pak Harto dan Jokowi mungkin ada dalam kelugasan bertindak, walaupun untuk Jokowi masih butuh pembuktian lebih lama. Tapi kedua presiden ini punya lingkungan dalam yang berbeda.

Dikutip dari caraksara.blogspot.com:

Keunggulan program ketahanan pangan pada masa kepemimpinan Pak Harto diakui oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono (2004—2009) dengan banyak mengadopsi program-program semasa Orde Baru. Anton mengaku, merasa berutang budi kepada Soeharto karena tugas-tugasnya sebagai Menteri Pertanian saat ini hanya menyatukan kembali puing-puing yang berserakan yang telah dibangun Soeharto. "Bangunan kokoh itu terserak akibat adanya perubahan-perubahan yang  terjadi di negeri ini. Namun, tugas saya membangun pertanian terasa lebih ringan jika dibandingkan dengan harus membangun dari nol. Beliau telah meletakkan dasar-dasar pembangunan pertanian yang benar. Banyak program beliau yang bagus dan saya lanjutkan," ujar Anton. 

Menurut Anton, setelah era Soeharto, hampir tidak ada pembangunan waduk-waduk besar. Soeharto juga membangun infrastruktur perbenihan, pengamatan, dan pengendalian hama. Banyak peninggalan Presiden Kedua RI itu yang sangat bermanfaat bagi pembangunan pertanian selanjutnya. "Saya kagum terhadap beliau yang sangat paham masalah-masalah pertanian sehingga saya tidak ragu menyebut beliau Bapak Pembangunan Pertanian Indonesia," ujar Anton.

Menguatkan pendapat Anton, Menteri Pertanian Prof Bungaran Saragih (2001—2004), mengatakan, Soeharto menempatkan upaya memenuhi kebutuhan pangan pokok tanpa harus impor, sebagai fokus pembangunan di masa pemerintahannya. "Waktu itu, ada tekad yang kuat dari pemerintah untuk berswasembada beras," ujar Bungaran.

Pada masa Soeharto, selain tekad yang kuat juga dikembangkan kebijakan dan penerapan program yang tepat dan konsisten. "Soeharto membangun dan mengembangkan organisasi atau institusi yang akan menjalankan program-program tersebut," ujar Bungaran.

Selanjutnya, setelah memiliki tekad, kebijakan, program, dan organisisasi pelaksana dari pusat hingga ke daerah, Soeharto menyediakan sumber daya manusia, yang relatif lebih pintar dengan menghasilkan sarjana-sarjana pertanian yang akan diterjunkan melaksanakan dan mendukung program tersebut, baik di lapangan maupun di lembaga-lembaga penelitian dan kampus. Soeharto juga menyediakan sumber dana yang besar untuk menyukseskan program menuju swasembada pangan.

Soeharto juga sukses memobilisasi masyarakat, terutama petani untuk bersama-sama meningkatkan produksi pertanian. "Kita beruntung saat itu mendapatkan benih unggul melalui program revolusi hijau saat itu. Soeharto menangkap revolusi hijau dengan tekad, dirumuskan dan dituangkan dalam kebijakan dan program, dicetak melalui institusi, kemudian disediakan SDM dan dana serta mobilisasi masyarakat petani," ujar Bungaran.

Ada yang masih ingat istilah VUTW dari pelajaran sekolah masa Orde Baru? Itu singkatan dari Varietas Unggul Tahan Wereng, jenis padi hasil riset yang mampu menahan gempuran hama paling ganas saat itu. Pak Harto butuh sekitar 16 tahun untuk mencapai swasembada beras. Jokowi hanya butuh 100 hari untuk membuat bangsa kita swasembada kartu.

Saturday, February 21, 2015

Perguruan Tinggi Terkemuka Menurut Badan Akreditasi Kita

Level tertinggi adalah yang rating-nya A. Pimpinan puncak masih diisi perguruan tinggi tua. UGM, IPB, Unair, ITB, ITS, UI masih 10 besar. Yang mengejutkan adalah kehadiran UNS, Unhas, Unpad, Unand di 10 besar pula. Kesemuanya adalah PTN.

Yang menarik, ada perguruan tinggi dari lingkungan Islam dalam 18 besar: UII, UMM, UIN Mlg, UIN Jkt, UMY. Dua PTS berbasis teknologi, UGD dan UKP, menyeruak pula. Dan salah satu PTN dari Pulau Jawa (lagi), Undip, sebagai juru kunci posisi 18.

Secara geografis, hanya Unhas dan Unand yang berasal dari luar Pulau Jawa. Saya tidak tahu di posisi berapa PT luar Jawa yang populer lainnya: USU, Unsri, Unud, Unsrat. Namun dari Jawa, Unbraw, Uned, Unsoed pun tak ada di 18 besar. Dari sektor swasta, kehilangan UBinus, Usakti, UKPar cukup disayangkan.

Gambar: Public Messenger Jaman Dulu

"John, saya tunggu di cafe seberang Trafalgar jam 2 siang. Sir William Grisham".

"Saya tiba-tiba sakit. Pertemuan dibatalkan. Dari Mr. Herlock Sholmes untuk Monsieur Lupin."

Ini adalah mesin otomatis penerima titipan pesan. Cukup tulis pesannya, masukkan koin, maka pesan akan terpampang di papan pengumuman selama 2 jam. Teknologi canggih di awal abad 21. Bisa menggantikan konsep penitipan pesan secara manual, lewat manusia.

Sunday, January 11, 2015

Pembantaian Charlie Hebdo dan Posisinya Dalam Sejarah Muslim Eropa

Seluruh dunia mengutuk pembantaian yang terjadi di kantor redaksi majalah Charlie Hebdo. Tak ketinggalan pula pemimpin Yahudi Israel mengambil kesempatan untuk mengutuk kebiadaban itu. Meskipun ada pula yang mengatakan bahwa peristiwa itu adalah rekayasa intelijen, mari kita coba singkirkan dulu semua.

Muslim Eropa terus berkembang secara signifikan akhir-akhir ini. Tercatat setidaknya ada 4,5 juta muslim di Jerman, 2,5 juta di Perancis, 2 juta di Inggris, 1 juta di Italia. Belum termasuk 16 juta muslim asli Rusia, dan jutaan lainnya di Bosnia dan Albania. Setelah kekhalifahan Islam di Andalusia Spanyol diusir secara biadab oleh penguasa lokal, secara damai ratusan tahun kemudian bibit-bibit umat Islam tersemai kembali.

Ini tentu kembali membangkitkan semangat reconquesta lama bangsa asli Eropa. Tercatat berkali-kali terjadi serangan terhadap masjid-masjid. Juga segala macam pembatasan terkait cara berpakaian maupun makanan serta hak sosial politik lainnya.

Pendiskreditan adalah salah satu alternatif yang dilakukan diam-diam untuk mengerem laju penyebaran syiar agama ini. Charlie Hebdo memilih untuk menggunakan naluri alamiahnya saat menghina agama ini. Tapi jangan lupa, intelijen yang berkuasa di Eropa maupun seluruh dunia, punya taktiknya sendiri. CIA sendiri yang mengatakan bahwa dalam 10-20 tahun ke depan kekhalifahan Islam akan berdiri kembali. Maka mereka tentu melakukan simulasi terhadap segala kemungkinan untuk mematikannya sebelum terlambat.

Dakwah Islam tidak boleh mati di Eropa hanya karena segolongan ultra-nasionalis yang mengatakan "tanah Eropa untuk bangsa Eropa". Para cendekiawan seperti Prof. Tariq Ramadhan tentu harus bekerja lebih keras lagi menjelaskan Islam dan keeropaan dalam konteksnya saat ini. Maka roda dakwah bisa diharapkan terus berputar meskipun banyak kerikil di sepanjang jalannya. Pembantaian Charlie Hebdo adalah batu besar di tengah jalan yang pasti akan membuat roda agak goyah terhuyung-huyung. Tapi dengan kestabilan yang bisa dijaga dengan sikap sabar dan berserah diri, peristiwa ini akan jadi memori kecil dibanding apa yang akan terjadi puluhan tahun mendatang.

Sementara itu, individu-individu sholeh akan terus menyusuri jalanan Eropa, membawa rahmat bagi manusia di sekelilingnya.


Wednesday, December 17, 2014

Seratusan Tahun Silam dan Mendatang

Pernahkah kita bayangkan apa yang terjadi di Indonesia di akhir abad XIX dan awal abad XX? Jelas, Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda. Saat itu, negara tetangga kita Filipina, sudah menyatakan kemerdekaan dari Spanyol (tahun 1898), walau kemudian dijajah lagi oleh USA. Seabad kemudian, biarpun kita tidak dijajah lagi secara fisik, tapi kita masih terjajah secara ekonomi. Sumber daya alam yang dikeruk secara massif dengan harga murah. Perusahaan negara yang diprivatisasi agar bisa dibeli murah oleh kapitalis asing. Pemerintah yang sudah tak sanggup mensubsidi rakyatnya, dan disuruh menanggung utang pula kepada sejumlah negara penjajah ekonomi, dengan bunga riba yang mencekik.

Budi Utomo, yang pendiriannya jadi tonggak sejarah gerakan menuju kemerdekaan Indonesia, baru dibentuk tahun 1908. Lihatlah seratus tahun masehi kemudian, tahun 2008 kita justru sedang mengalami krisis moneter di bawah tampuk kepemimpinan SBY. Pendidikan mulai berkembang di akhir abad XIX. Kaum terpelajar makin banyak. Seratusan tahun kemudian kita masih bergulat untuk menuntaskan wajib belajar 9 tahun dan gonta-ganti tarik ulur kurikulum tak berkesudahan.

Sebenarnya di akhir abad XIX dan awal abad XX, bangsa Indonesia terus melakukan perlawanan fisik terhadap penguasa Belanda. Namun intensitasnya menurun. Tercatat ada perang Aceh dan perang di Lombok saat pergantian milenium. Kemudian perlawanan diambil alih oleh kaum terpelajar lewat jalur politik.

Tahun 1898, demi merayakan penobatan Ratu Belanda Wilhelmina, seorang water superintendent, AH van Bebber, membangun replika menara Eiffel setinggi 40-an meter di Tasikmalaya. Seratus tahun kemudian, 1998, krisis ekonomi mengguncang rezim Soeharto, lengser keprabon pun terjadi.

Adakah yang bisa kita pelajari dari perbandingan 100 tahun ini? Entahlah. Justru menarik untuk membayangkan apa yang akan terjadi di dunia tahun 2100 nanti. Dalam loncatan 100 tahun ke depan pasti banyak perubahan lain yang signifikan secara historis. Masihkah ada Indonesia dan pengkotak-kotakan wilayah dunia?

Saturday, December 6, 2014

Muslim Dalam Pasukan Waffen-SS Nazi Jerman (picture)

Sejarah memberikan banyak hikmah untuk dipelajari. Sejarah manis, sejarah pahit, sama saja. 'Jasmerah' kata Soekarno. Belajar sejarah dapat menjadikan kita jadi orang yang lebih bijak. Orang yang mengetahui suatu hal lengkap dengan asal-usul dan latar belakangnya lebih baik dibanding yang hanya mengetahui kulitnya saja.

Dari apa yang kita pelajari, sejarah 70-80 tahun lalu bisa membuat kita berpikir apa yang akan terjadi mungkin 70-80 tahun mendatang. Itu bisa membantu kita untuk bersiap-siap, karena konstelasi dunia akan terus berubah. Jika 70-100 tahun lalu dapat terjadi dua kali perang dunia, maka konstelasi dunia dewasa ini mengindikasikan bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa dalam kurun 50-100 tahun akan ada perang lagi yang merubah perimbangan kekuatan di bumi ini.

Ini adalah salah satu bentuk keterlibatan dunia muslim dalam perang dunia II. Setelah runtuhnya khilafah Usmani, dunia Islam goyah dan lemah. Sebagian muslim dari Bosnia, Kroasia, Albania, bergabung dalam pasukan pro Nazi Jerman.

. . .

@ThislsAmazing: Muslim members of the Waffen-SS 13th division stop to pray ca. 1942 pic.twitter.com/joyoPUXxLy -- shared via UberSocial http://ubersocial.com