Showing posts with label Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Psikologi. Show all posts

Thursday, February 12, 2015

Efek Media Dalam Membangun Citra

@dyahsuji: Yang cerdas bisa y komparasi no 1-2 vs 3? ;) @SangPemburu99 @bayprio @Fahmisalim2 @bang_dw @dimasprakbar @ardianasmar pic.twitter.com/1FIOVZnDgE -- shared via UberSocial http://ubersocial.com

Dari tweet diatas saya dapatkan gambar berikut. Ini contoh paling alamiah dari kuatnya pengaruh DIKSI (pilihan kata) terhadap respon atau persepsi masyarakat. Pakar psikologi komunikasi yang bisa memadukan antara jurnalisme dan periklanan pasti bayarannya mahal ya?!

Tuesday, December 23, 2014

Membangun dan Memelihara Kedisiplinan

Sikap disiplin itu langka di Indonesia. Bangsa kita sudah terbiasa hidup berkecukupan, tidak butuh antri misalnya, karena dengan berebut saja sudah bisa makan, apa lagi kalau antri. Permainan logika sesat.

Jika ingin mendisiplinkan anak, maka orang tua harus memberi contoh. Orang tua harus bisa jadi teladan disiplin bagi anak-anaknya. Jika orang tua ingin anaknya rajin shalat misalnya, maka contohkanlah dengan sebaik-baiknya, selalu shalat di awal waktu, dan di masjid pula, sambil memberi pengertian kepada si anak.

Pendisiplinan butuh pendekatan persuasif. Harus dengan contoh, dan harus jadi bagian dari program itu sendiri. Misal, jika Ahok ingin semua pengendara mobil dan motor di Jakarta beralih ke moda angkutan umum, maka beliau harus mengajak sambil mencontohkan. Tunjukkan betapa nikmat dan nyamannya naik metromini atau kopaja atau transjakarta atau krlkomuter dengan berangkat dan pulang dari balaikota menggunakan angkutan umum. Dan jangan pakai marah-marah pula. Tapi harus secara lembut dan sabar agar kesadaran warga tergugah.

Memelihara kedisiplinan butuh konsistensi. Jika misalnya pemerintah ingin menertibkan pedagang kaki lima di pinggir-pinggir jalan, maka bangun dulu kesadaran mereka dan beri batas waktu yang rasional. Setelah ditertibkan, yang jauh lebih penting adalah pengawasan terus-menerus. Satpol PP berpatroli mengawasi semua ruas jalan dan menindak tegas pedagang kaki lima yang masih membandel. Pemerintah harus melakukannya setiap hari dan tidak boleh terputus. Pengawas dan pembuat peraturan tidak boleh bosan melakukan tugas pengawasannya. Kombinasikan dengan penilaian dan penghargaan, sampai seluruh warga menerima hal itu sebagai norma baru, sampai masyarakat bisa mandiri dalam kedisiplinan menjaga ketertiban.

Gambar berikut adalah contoh salah satu cara menjaga kedisiplinan ala tentara. Bagaimana caranya agar postur tentara ini tetap tegak saat berdiri dalam upacara? Jarum pentul jawabnya.

Friday, November 21, 2014

Revolusi Mental Bangsa, Perlukah?

Setiap sebelum memulai shalat berjamaah, imam masjid di jaman modern ini biasanya sudah punya rentetan peringatan standar agar diikuti oleh para makmum. Yang sudah standar misalnya: "Luruskan dan rapatkan shaf", "Tolong isi shaf di depan yang masih kosong", "Yang bawa anak kecil tolong dijaga agar tidak mengganggu jamaah lain", atau kalo yang nyunah "Tolong digulung ujung bawah celana atau sarung Anda agar tidak menutupi mata kaki".

Tapi yang lebih menarik adalah peringatan ini: "Yang membawa hape tolong dimatikan/dinonaktifkan sementara waktu agar tidak mengganggu kekhusyukan shalat kita". Sudah jelas peringatan dari imam ini, tapi tetap saja ada yang bandel. Bunyi panggilan telpon atau SMS masuk tetap bersahutan saat shalat.

Kebandelan ini sepertinya sudah jadi cap di jidat bangsa kita, sudah mendarah daging. Contoh lain: mobil-mobil mewah yang mestinya dimiliki orang berduit, justru senang menggunakan BBM bersubsidi, dan kadang tertangkap mata buang sampah sembarangan dari jendela mobilnya. Jika ditegur malah bilang: "Saya anggota lho! Maksudnya apa kamu negur saya?" Membela kesalahan sendiri sambil mengancam.

Jika perilakunya jorok di negeri sendiri, ketika di luar negeri mereka justru rapi sekali. Seolah-olah orang paling bersih dan taat aturan umum. Contoh lain: restoran di pusat belanja furnitur IKEA punya aturan bahwa pengunjung harus membereskan bekas piring, sendok garpu dan gelasnya ketika selesai makan, dibawa ke tempat yang sudah ditentukan. Aturan ini tertulis di banyak tempat di restoran itu. Tapi tetap saja banyak yang meninggalkannya sembarangan di meja seolah aturan tertulis itu tak benar-benar ada.

Disinilah letak urgensinya Revolusi Mental ala Jokowi. Mental bangsa yang jorok, malas, susah diatur, harus dirubah menjadi bersih, giat, dan mau antre. Soal konsep implementasinya bagaimana, ini yang belum saya lihat di minggu-minggu awal pemerintah baru ini. Semoga bukan jargon muluk pencitraan belaka.

Friday, October 31, 2014

Kebodohan Mengelola Sumber Daya

@incredibleviews: 100% true pic.twitter.com/X5dpaKG3fj -- shared via UberSocial http://ubersocial.com

Gambar ini memang jleb karena mengkontraskan kondisi kita yang mungkin berlimpah sumber daya, modal, atau apapun namanya. Tapi jika tidak tahu bagaimana menggunakannya, tentu tujuan tak akan tercapai.

Jika memang tidak mampu menggunakannya dengan tepat, mending investasikan waktu untuk belajar, agar suatu saat jadi MAMPU. Jangan langsung menyerah, diserahkan ke orang lain yang pasti punya kepentingan sendiri!!

Jangan seperti RI.


@incredibleviews: 100% true pic.twitter.com/X5dpaKG3fj -- shared via UberSocial http://ubersocial.com


Wednesday, September 24, 2014

Bagaimana Caranya Bicara agar Didengarkan Orang?

Julian Treasure, dalam salah satu kuliahnya menyebutkan 7 deadly sins of speaking:
1. Gossip
2. Judging
3. Negativity
4. Complaining
5. Excuses
6. Lying
7. Dogmatism

Ada 4 fondasi yang harus dimiliki jika apa yang kita bicarakan ingin didengarkan orang (HAIL):
1. Honesty: be clear and straight
2. Authenticity: be yourself
3. Integrity: be your word
4. Love: wish them well

Instrumen untuk meningkatkan pembawaan ketika berbicara:
1. Register: coba rendahkan/dalamkan suara
2. Timbre: rasa suara yang hangat, mulus, kaya seperti cokelat panas
3. Prosody: irama
4. Pace: atur kecepatan bicara, cepat, lambat, atau diam
5. Pitch: tinggi rendah suara
6. Volume

Tuesday, June 10, 2014

Kelihatannya Nggak Sulit-Sulit Amat

Bagaimana kita menganalisa pernyataan di bawah ini?

"Kelihatannya nggak sulit-sulit amat atasi macet dan banjir Jakarta"

"Kelihatannya" menandakan sudut pandang umum. Bisa juga berarti bahwa sesuatu itu harus dilihat lebih mendalam sebelum menghasilkan kesimpulan tetap. Atau, berarti belum ada keyakinan bahwa kesimpulan atau pernyataan itu memang benar hinggal level 100%. Masih ada keraguan tersisa. Namun, keraguan itu hanya sedikit saja, sekedar toleransi untuk margin of error yang kecil. Tidak sangat yakin, namun cukup nyaman untuk meyakinkan orang lain. Ini juga memperlihatkan kepercayaan diri dari si pembicara untuk menjawab topik yang tidak terlalu dikuasainya.

"Nggak sulit-sulit amat" berarti sedikit SULIT, a bit difficult, ada sedikit tantangan, namun optimistis bisa diatasi. Bisa juga berarti kebalikan, bahwa masalah itu sebenarnya mudah, tapi hanya orang tertentu yang ahli, yang jago, yang bisa melakukannya. Ini menunjukkan bahwa, berlawanan dengan pendapat orang lain, si pembicara yakin jika dirinya dalam posisi menangani masalah itu, dia akan mampu mengatasinya dengan mudah.

Bagaimana jika "kelihatannya" bergabung dengan "nggak sulit-sulit amat" ? Ya berarti biarpun belum menguasai duduk masalahnya, si pembicara yakin bahwa ada cara yang mudah untuk mengatasi masalah tersebut yang hanya dikuasai oleh si pembicara. Berarti si pembicara mengatakan hal tersebut dalam rangka marketing diri, menawarkan kemampuannya untuk dipilih orang.

Soal kenyataan setelah orang tersebut terpilih, adalah lain soal, lain cerita. Biarlah itu jadi bagian sejarah, toh bangsa kita terkenal gampang melupakan dan memaafkan. Biarlah itu jadi pembelajaran, agar calon pemimpin di masa depan bisa lebih lugas dalam kejujuran, agar voter masa depan mengurangi toleransi terhadap keyakinan diri yang tidak pasti. Keyakinan yang seharusnya diawali kata-kata INSYA ALLAH, 'jika Allah menghendaki'.

Monday, June 9, 2014

Nostalgia

Jaman dulu, anak kelas 1 SD di kampung saya umumnya berangkat ke sekolah berbekal sangu 50 rupiah. Sekarang berapa ya? Jaman dulu, ongkos angkot di kota kelahiran saya 100 rupiah sekali jalan. Di masa kini, berapa ya? Jaman dulu, total biaya kuliah di kampus saya cukup 5 juta rupiah saja untuk 4,5 tahun. Sekarang sudah jadi berapa kali lipat ya? Mengingat kembali kisah unik di masa lalu? Itulah NOSTALGIA.

Secara teknis, Nostalgia adalah sikap sentimentil terhadap masa lalu, terutama terhadap waktu atau tempat yang secara pribadi mendatangkan kenangan bahagia. Istilah Nostalgia sendiri dicetuskan oleh mahasiswa kedokteran di abad 17 yang mempelajari fenomena masalah psikologis tentara bayaran Swiss yang berperang jauh dari rumah. Pada masa itu, istilah Nostalgia digambarkan serupa dengan 'homesick', alias kangen kampung halaman. Namun sekarang nostalgia dianggap salah satu bentuk emosi yang positif, berdasarkan sejumlah penelitian terbaru.

Nostalgia membangkitkan perasaan yang positif, memperbaiki mood. Itu salah satu hasil studinya. Nostalgia juga mengurangi perasaan kesepian. Dan nostalgia bisa membuat seseorang merasa dirinya berharga dan hidupnya punya arti.