Showing posts with label Olahraga. Show all posts
Showing posts with label Olahraga. Show all posts

Saturday, April 4, 2015

Real Madrid Jadi Klub Berpendapatan Tertinggi

@TheEconomist: Congratulations Real Madrid: the world’s highest-earning club for the tenth straight year econ.st/1CdJ37T pic.twitter.com/BVM2Ladcg7 -- shared via UberSocial http://ubersocial.com

Tidak mengherankan. Real Madrid punya uang berlimpah yang diputar terus dengan pembelian bintang baru dari klub lain, mulai dari CR7 hingga Bale. Soal prestasi, mereka hanya dikangkangi oleh Barcelona, klub dengan deretan bintang yang lebih tajam. Hanya saja Barca tidak menganggap dirinya Los Galacticos seperti Real Madrid.

Manchester United, Bayern Munich, dan Paris Saint-Germain, tiga raksasa di negerinya masing-masing, harus rela menyelinap diantara 2 tim Spanyol ini. 


Sunday, January 25, 2015

Selingan Sepakbola, CR7 Menyamar Jadi Tunawisma

_.__

@Footy_Jokes: Cristiano Ronaldo disguised as a homeless man played football with a kid and gives him the surprise of his lifetime. pic.twitter.com/1LU8KIMgsq -- shared via UberSocial http://ubersocial.com

_.__

Dari akun twitter diataslah gambar berikut saya peroleh. Memang jadi bintang sepakbola memberi kemudahan seseorang untuk berbuat apapun. Hanya menyamar sebentar sebagai gelandangan, Cristiano Ronaldo kemudian memberi kejutan kepada seorang anak. Entah kapan dan dimana adegan ini direkam. Tapi setidaknya bisa memberi kita secuil sisi lain dari seorang superstar sepakbola yang hidup serba glamor, kumpul kebo tak jelas, dan barusan menerima kartu merah nomor 9 sepanjang karirnya.

Wednesday, December 10, 2014

Pelajaran Sepakbola dari Tetangga se-ASEAN

Filipina: pemain naturalisasi mereka lebih tepat sasaran, merata di semua lini, menutupi lubang yang tak bisa ditambal dengan pemain produk lokal. Pemain naturalisasi kita, berlebih di depan, lemah di semua posisi lainnya. Asal comot.

Thailand: konsisten di posisi elit ASEAN, sudah biasa di level Asia. Skill rata-rata pemain mereka diatas pemain kita. Ini memang soal bakat. Orang Thai jago main bola, orang Indo jago koar-koar doang. Bakat harus diasah, jangan malah disia-siakan seperti yang biasanya kita lakukan.

Vietnam: simbol keuletan dan masih terus berkembang. Tak butuh pemain naturalisasi, mereka pede mengasah bakat lokal saja. Pelan-pelan mereka naik ke level Asia di tingkat junior. Di kita, bakat besar hanya kelihatan bagus di awal. Lalu meredup karena sistem pelatihan yang buruk.

Malaysia: punya liga yang stabil, mampu membuktikan bahwa orang melayu juga pintar main bola. Bandingkan dengan kita, berapa banyak pemain timnas dari Sumatera?

Singapura: tidak butuh ribuan pulau dan ratusan juta penduduk untuk membangun satu timnas. Bakat yang ada saja yang diasah dengan terarah. Sementara di ekosistem kita, ratusan juta penduduk tidak sebelas pun yang benar-benar menggigit permainannya. Mau ditambah penduduknya jadi setengah milyar pun tetap gak ngaruh.

Timor Leste: pisah dari Indonesia membuat maju sepakbolanya.

Thursday, November 27, 2014

Sepakbola Indonesia Adalah Contoh Kegagalan

Imbang dengan Vietnam lalu kalah telak dari Filipina. Saya menyarankan timnas kita agar kalah juga dari Laos di pertandingan terakhir AFF Cup. Dengan demikian sempurna sudah kehancuran sepakbola kita. Belum lama kita ingat soal harapan yang terlalu bombastis tentang timnas U-19. Media cetak maupun online menggoreng cerita tentang mereka. Lalu antiklimaks. Belum lagi soal sepakbola gajah antara Sleman dan Semarang.

Agar tidak perlu potong leher, saya sarankan Jokowi untuk bekukan PSSI. Lalu FIFA akan otomatis beri sanksi Indonesia karena ada intervensi pemerintah terhadap federasi sepakbola lokal. Lalu kita dilarang kirim timnas selama beberapa tahun ke kejuaraan internasional. Lalu manfaatkanlah masa skorsing itu untuk pembenahan kedalam. Revolusi. Sesuai janji kampanye, kalau perlu sepakbola Indonesia pusatkan di Papua saja semua. Setuju banget!! Ayo Pak, realisasikan janjinya, ha!!

Sunday, November 9, 2014

Rooney, dari Kartu As ke Kartu Mati

Masihkah ada yang menaruh harapan pada Wayne Rooney? Pendukung Man Utd mungkin belum berhenti berharap. Tapi pendukung timnas Inggris mungkin sudah tak terlalu yakin.

Di Man Utd posisi aslinya sebagai striker. Tapi di posisi ini sekarang ada Van Persie, Falcao, Mata. Kalau dimundurkan sedikit ke lini tengah, posisinya sudah diperebutkan oleh Di Maria, Januzaj, Herrera, Blind. Van Gaal memberinya jabatan kapten, indikasi bahwa dia tak tergantikan di lapangan. Namun sepertinya masa keemasannya telah habis.

Di timnas Inggris pun dia punya jabatan kapten. Tapi di posisi penyerang, Inggris punya darah muda pada diri Sturridge dan Welbeck dan Sterling dan Lallana. Peran Rooney takkan lama lagi berakhir.

Rooney bukanlah seorang pemimpin dan motivator. Setelah gantung sepatu mungkin dia takkan jadi pelatih. Dia lebih cocok jadi bintang film action. Saat masih muda di Everton, dialah harapan Inggris untuk jadi juara dunia sekaligus meraih gelar pemain terbaik. Saat ini, kita mungkin hanya bisa berharap melihat sisa-sisa yang terbaik darinya.


Friday, November 7, 2014

Persib dan Persipura Juara Bersama 2014

Sudah tentu pemenang di final hanya satu. Tapi Persib yang juara, ataupun Persipura, sebenarnya sama saja. Keduanya pantas mewakili Indonesia di AFC CUP tahun depan.

Persipura tahun ini menjalani dua kompetisi sekaligus: ISL dan AFC. Di ISL mereka sampai di final. Di AFC mereka sampai semi final. Prestasi yang bagus. Persib hanya ikuti ISL dan disaingi oleh tim sekota, PBR.

Persipura punya superioritas skill yang dengan 10 pemain saja masih bisa menekan 11 pemain Persib. Sayang sekali mereka kalah dari Qadsia di AFC. Seharusnya mereka bisa menembus final kompetisi kasta kedua di Asia itu.

Persib seperti Arema, punya banyak pemain nasional, tapi tak konsisten. Tim penuh kolektifitas di masa lalu telah berubah menjadi tim pengoleksi bintang di masa kini. Jika roh Persibnya Sutiono bisa dimunculkan, mereka akan kembali jaya.

Di AFC CUP 2015, Persipura diharapkan bisa lebih baik lagi. Kalau bisa juara, kenapa tidak? Masalah mereka hanyalah soal motivasi. Maukah mereka unjuk kekuatan di level Asia. Apakah target jadi juara ISL sudah cukup bagi mereka tiap tahunnya?

Untuk Persib, mestinya level mereka tidak jauh dari tim lain di AFC CUP. Tim Hong Kong, Kitchee FC, mestinya berimbang dengan mereka. Jika Kitchee bisa sampai final AFC CUP, mengapa Persib tidak?

Sunday, October 19, 2014

Ramaikan Kompetisi SEPAKBOLA AMATIR

Dahulu, masa orde baru, ada istilah "mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga". Jika dibuat spesifik, mungkin ini seharusnya berlaku untuk sepakbola juga. Sering ada ungkapan bahwa "penduduk Indonesia ini ratusan juta, tapi mencari 11/22 orang pemain sepakbola saja susah sekali".

Ini adalah ironi. Kita terlalu terbiasa mencari jalan pintas. Manusia Indonesia tidak suka mengikuti proses normal. Senangnya memotong antrian. Jika bisa disogok, sogok saja agar lebih ringan prosesnya. Suap merajalela karena pemberi suap dan penerimanya sama-sama suka.

Dalam sepakbola, kompetisi sangat dibutuhkan. Bagaimana skill bisa meningkat jika tak punya lawan sebagai benchmark. Liga yang kita miliki saat ini hanyalah sebuah liga semi-pro dengan ratusan atau ribuan pemain. Padahal dari sudut manajemen potensi, kita harus punya Playerbase sebagai sumber data pemain potensial untuk tim utama. Ribuan pemain tidak cukup untuk merepresentasikan ratusan juta potensi. Minimal harus ada playerbase dalam skala ratusan ribu orang yang berkompetisi secara rutin agar cukup mewakili.

Maka kompetisi amatir jadi penting dan harus di-mainstream-kan. Ada 3 kelompok pemain amatir yang harus diberi arena bersaing dan berkembang:

1. Pemain usia sekolah
Setidaknya harus ada kompetisi rutin antar SD (under 12 years old), antar SMP (under 15), antar SMA/SMK (under 18). Dibuat grup-grup liga kecil per kelurahan, lalu naik ke kecamatan, lalu naik hingga kejuaraan kabupaten/kota. Juara kabupaten/kota boleh dipertemukan dalam pertandingan playoff di level provinsi hingga antar provinsi untuk memperebutkan status juara nasional.

Di sisi lain, pembinaan profesional juga mesti dilakukan secara paralel lewat SSB atau klub sepakbola junior. Setidaknya harus ada liga antar SSB di tingkat kabupaten kota. Mungkin dibuat berjenjang, seperti divisi utama, divisi satu, divisi dua, jika ada puluhan SSB di satu kota. Juara liga SSB kabupaten/kota bisa mewakili daerahnya di liga nasional, yang dengan sistem gugur pun sudah cukup. Setidaknya harus ada tiga kelompok umur yang diterapkan untuk kompetisi SSB/klub junior: under 13, under 16, under 19.

2. Pemain mahasiswa
Liga mahasiswa adalah untuk menjaga playerbase amatir di kelompok usia under 22 years old. Ini tentu harus dibedakan dengan kompetisi tim junior atau reserve milik klub semi-pro. Tujuan kompetisi amatir di kelompok umur ini adalah untuk mengais potensi tersisa yang belum tersaring di jenjang usia sekolah. Kompetisinya cukup diadakan di tingkat kabupaten/kota. Kejuaraan nasional sifatnya playoff belaka.

3. Pemain karyawan
Ini adalah jenjang tertinggi liga amatir. Meskipun lebih bersifat rekreasional dibanding prestasi, liga di level ini juga untuk menjaga playerbase yang sudah terbentuk sejak usia sekolah. Agar meskipun gagal bersaing untuk masuk ke liga semi-pro maupun profesional, mereka tetap dalam lingkungan sepakbola walaupun tidak terlalu kompetitif. Dengan demikian, tetap menerapkan slogan lama 'mengolahragakan masyarakat'. Variasi di level ini tidak lagi berdasarkan umur, melainkan berdasarkan event dan arena, sepakbola pantai maupun futsal.

Saat ini sepakbola amatir berjalan sporadis tanpa standarisasi dan program yang bersifat nasional. Seharusnya kompetisi amatir didukung oleh sistem pelatihan wasit amatir maupun pelatih amatir. Ini pun belum kita lihat batang hidungnya sama sekali. Programnya harus berskala nasional, namun pelaksanaannya harus kuat dan berkesinambungan di tingkat KABUPATEN/KOTA.

Monday, October 13, 2014

Bukan Soal Mental, Tapi Kualitas yang Medioker

Tiap kali atlet kita kalah dalam pertandingan internasional, maka para pembinanya akan membuat apologi: "Secara skill kita tidak kalah, hanya mental bertanding yang kurang. Para pemain kita bermain tidak tanpa beban."

Ayolah, jangan gunakan alasan ini melulu. Sudah jelas skill-nya memang pas-pasan, masih mau bilang ini masalah mental? Katakanlah dalam tiap pertandingan atlet kita hanya mampu menunjukkan 50% kemampuannya karena "demam panggung" dan sebagainya. Fokus kita seharusnya, bagaimana agar kemampuan 50% ini tetap lebih unggul daripada 100% -nya lawan. Kalau lawan dengan 100% kekuatannya bisa cetak 5 gol, maka pemain kita cukup dengan 50% saja kemampuannya bisa cetak 6 gol. Tetap menang. Artinya, skill atlet kita harus 2 kali lipat skill negara lain agar bisa mengantisipasi momok mental itu tadi.

Semangat superioritas sepertinya belum ada dalam kamus pendidikan anak bangsa kita. Padahal tak ada salahnya mencontoh semangat ala Jerman dan Jepang ini. Pantang menyerah kala belajar dan berlatih, dengan visi yang jelas bahwa kita bisa lebih baik dalam kualitas dari bangsa apapun di dunia, justru cocok sekali untuk atlet maupun pelajar kita. Jangan merasa cukup bisa menyamai bangsa lain. Cukup itu kalau kita sudah 2 level diatas bangsa lain.

Kalau atlet kita sudah 2 kali lipat lebih baik kualitasnya dibanding lawan-lawannya, maka percayalah, kepercayaan diri akan tumbuh sendiri. Lihatlah Lionel Messi. Apakah postur tubuh bisa membuat dia percaya diri? TIDAK. Dia merajalela di lapangan karena tahu skill-nya jauh diatas lawannya. Kalaupun sedang di bawah form, dia tetap bisa bikin gol melawan tim yang kualitasnya lebih rendah. Dia baru terhenti ketika menghadapi tim yang memang punya ruh "uber alles" lebih tinggi.

Sunday, October 12, 2014

Bangsa Indonesia Memang Penggemar Festivalisasi

Judul diatas seberapa provokatif untuk Anda?

Tidak politik, tidak olahraga. Kaum kelas menengah Indonesia mestinya jadi penggerak kemajuan peradaban bangsa. Tapi sejauh yang saya lihat hingga hari ini, mereka hanyalah budak konsumerisme dan robot kapitalis penguasa media belaka.

Pemimpin kita yang terbaru contohnya. Takkan menang tanpa pencitraan. Siapa yang memoles citranya? Pemilik modal asing. Siapa yang jadi budak gombalisasi citra dan janjinya? Anak-anak muda kelas menengah, melek internet, berduit, merasa idealis, liberal, menganggap agama bagian budaya belaka. Siapa obyeknya? Jutaan warga miskin nusantara, yang lelah,  yang punya hak pilih.

Contoh lainnya adalah timnas U-19 kita. Keberhasilan mereka juara ASEAN digoreng oleh media yang sama dengan yang mengorbitkan si pemimpin blusukan. Lalu fans timnas kita dibuai dengan cerita betapa hebatnya mereka. Pelepas dahaga puluhan tahun. Bisa kalahkan Korea Selatan sekali saja sudah dianggap hebat. Langsung target ke piala dunia pula. Hebat sekali pencitraan itu.

Ingatkah Anda timnas Primavera? Mereka juga timnas U-19. Ingatkah Anda siapa bintangnya? Kurniawan DJ dianggap penyerang terbaik kita yang pernah ada. Duetnya dengan Indriyanto dielu-elukan. Play maker-nya Bima Sakti. Di belakang ada Eko Purjianto, Yeyen Tumena, Aples Tecuari. Gawangnya dikawal Kurnia Sandi. Apakah mereka lolos ke piala dunia? Gelar juara apa yang mereka raih? Adakah bedanya dengan timnas sekarang?

Timnas kita takkan jadi hebat hanya karena cerita karangan media kapitalis. Sepakbola kita hanya akan maju jika kompetisi di akar rumput berjalan dengan baik. Tak ada gunanya membentuk timnas dengan TC jangka panjang yang melelahkan jiwa mereka. Lebih baik jalankan kompetisi amatir di seluruh wilayah secara spartan, pendidikan wasit dan pelatih dengan standar tinggi. Barulah hasilnya bisa dilihat setelah 10 tahun.

Saturday, September 20, 2014

Persipura Levelnya Asia

Berhasilnya Persipura maju hingga semi final kejuaraan sepakbola kasta kedua Asia, piala AFC, prestasi yang hebat. Sudah lama sekali klub Indonesia tidak unjuk gigi cukup jauh di kompetisi Asia, mungkin sejak jamannya Kramayudha Tiga Berlian dan Pelita Jaya dulu. Setidaknya ada kualitas yang menunjukkan bahwa kompetisi lokal kita ada hasilnya.

Namun ini belum ada apa-apanya mengingat AFC hanya boleh diikuti para juara liga kasta kedua pula di Asia. Tidak ada peserta dari liga Jepang, liga Korea, bahkan liga Arab Saudi. Jadi ini hanyalah sekedar pemberian kesempatan berkompetisi bagi negara-negara dengan mutu sepakbola yang rendah. Sekalian saja nanti diadakan pula piala dunia antar klub kasta kedua. Mungkin lawannya dari Eropa berasal dari juara liga Bosnia, liga Siprus, liga Lithuania. Dari benua Amerika mungkin dari liga Panama, liga Dominika, liga Suriname.

Friday, September 19, 2014

Formasi Pohon Cemara untuk Manchester United

Dengan tambahan 6 pemain baru, Manchester United memperbarui kapasitas mereka dalam mengarungi liga primer musim ini. Radamel Falcao menyegarkan pilihan di barisan depan setelah dilepasnya Danny Welbeck dan Javier Hernandez. Angel Di Maria, Ander Herrera, dan Daley Blind menambah energi di lini tengah yang tak berdaya setelah lewatnya era Ryan Giggs, Paul Scholes, Shinji Kagawa, dan Nani. Sementara di belakang, lemahnya pertahanan Man Utd setelah memudarnya era Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, dan Patrice Evra, sedikit diobati dengan kedatangan Luke Shaw dan Marcos Rojo.

Namun Louis Van Gaal harus cukup cerdas untuk mengakomodasi kebutuhan para bintang baru untuk membuktikan diri di satu sisi, dan keberadaan para bintang lama seperti Wayne Rooney, Robin Van Persie, Michael Carrick, Antonio Valencia, Ashley Young, Adnan Januzaj, Phil Jones, Chris Smalling, Johnny Evans, Rafael Da Silva. Keputusan-keputusan berat harus diambil LVG sepanjang musim ini.

Salah satu formasi yang ramai dibicarakan di masa lalu adalah formasi pohon cemara yang dipopulerkan oleh Carlo Ancelotti di AC Milan. Format 4-3-2-1 menempatkan 4 orang bek di belakang dan 3 gelandang di depan para bek. Salah satu kombinasinya adalah Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Massimo Ambrosini. Di depan adalah 2 gelandang serang, biasanya diisi Kaka dan Clarence Seedorf. Sedangkan di puncak pohon ada Andriy Shevchenko. Hasilnya adalah sebuah tim unik yang sangat disegani di liga serie A maupun kompetisi Eropa.

Cocokkah formasi pohon cemara untuk Man Utd masa kini? Bisa jadi, mengingat mereka punya bahan bakar untuk itu. Di belakang, posisi back-four bisa diisi oleh Rafael, Evans, Rojo, Shaw. Ditengah, ada Di Maria, Blind, dan Herrera. Di depan gelandang, ada Van Persie dan Rooney. Lalu di ujung paling depan ada Falcao.

Akankah pilihan formasi ini cukup ampuh? LVG mungkin akan sering gonta-ganti formasi. Tapi formasi pohon cemara ini layak dicoba suatu saat. Menurut Anda?

Thursday, August 21, 2014

Scholes Khawatirkan Kejatuhan Man Utd, Beralasankah?

Wajar saja Paul Scholes, pemain yang setia bermain hanya di Manchester United sepanjang karirnya, berpendapat demikian. Man Utd yang sekarang bukan lagi seperti tim yang 15 bulan lalu jadi juara Liga Inggris. Meminjam pandangan Scholes lagi, tim di level teratas Liga Inggris adalah Man City dan Chelsea. Setingkat di bawahnya adalah Liverpool dan Arsenal. Man Utd bahkan masih lebih bawah lagi levelnya.

Tim seperti ini pula yang pada laga perdana liga Inggris musim ini, di Old Trafford pula, langsung menelan kekalahan dari tamunya, Swansea. Sistem yang dibawa Louis Van Gaal tidak selamanya cocok dimanapun dia berada. Mungkin dia bisa sukses di piala dunia, hingga rebut juara ketiga. Tapi di liga Inggris, tentu rumput dan anginnya tidak akan sama. Intinya, dia tetap butuh adaptasi dan penyesuaian cara pandang. Satu hal lagi yang dia butuhkan: WAKTU. Ini juga kendala David Moyes musim lalu.

Lalu apa saran Scholes untuk LVG? Minimal harus perkuat Man Utd dengan 5 tambahan pemain senior. Ya, SENIOR. Bukan sekedar talenta berpotensi untuk masa depan. Karena itulah dia menyarankan rekrutmen baru diantaranya: Xabi Alonso, Sami Khedira, Angel Di Maria, Raphael Varane, dan Mats Hummels. Saya sendiri tidak yakin Man Utd akan mendapatkan psmain baru setara mereka. Ed Woodward memang berusaha meyakinkan bahwa Man Utd punya uang yang siap dibelanjakan di pasar transfer. Tapi Man Utd seperti tak punya lagi gigi untuk mendatangkan pemain hebat. Dua bulan berlalu, dan hanya Marcos Rojo yang datang. Jendela transfer hanya seminggu lagi.

Monday, August 18, 2014

Louis van Gaal Butuh Waktu?

Ketika ditunjuk sebagai pelatih baru Manchester United, Louis Van Gaal masih menjabat pelatih tim nasional Belanda. Pertandingan piala dunia 2014 memberikan hasil sensasional. Pertandingan pertama, Belanda sukses menekuk juara bertahan Spanyol secara meyakinkan. Di ujung cerita, Belanda merebut juara ketiga setelah kalah dari Argentina dan menang atas Brazil.

Hasil diatas memberi harapan besar bagi fans MU. Begitu melepas posisi di timnas Oranye, LVG langsung tancap gas. MU sukses juara turnamen pemanasan di Amrik. Hasilnya pun fantastis. Tanpa kekalahan, bahkan sempat menaklukkan Real Madrid. Harapan semakin menebal.

Pertandingan pertama Liga Primer hanya menghadapi Swansea. Di Old Trafford pula. Dan MU kalah. Ada apa? David Moyes dimintai komentar tentang penggantinya menjawab bahwa LVG masih butuh waktu. Sama seperti dirinya ketika menggantikan Fergie tahun lalu. The Chosen One tentu senang dengan pencapaian The Proven One di laga perdana Liga Primer. 'Setidaknya saya tidak jelek-jelek amat dibanding LVG', mungkin begitu pikir Moyes. Setidaknya Moyes sempat menang di pertandingan pertama. LVG justru memulai kompetisi sesungguhnya dengan kekalahan. Siapa yang start-nya buruk kalau begitu?

Saya lihat, ini adalah era mundur untuk MU. Kemunduran selalu terjadi di masa transisi antara manajer hebat. Setelah era Busby, MU butuh sekitar satu-dua dekade untuk menguasai liga Inggris kembali. Setelah era Fergie, saya tidak yakin MU akan kembali bersinar dalam waktu dekat. Mungkin butuh waktu satu-dua dekade ke depan baru MU bangkit kembali. Itu pun kalau di masa depan sepakbola masih jadi olahraga primadona di Inggris. Terciptanya generasi seperti Busby Babes dan Class of '92 tidak akan bisa seketika.

Monday, July 14, 2014

Jerman Juaranya

Assist Andre Schuerrle dan gol Mario Goetze, memupuskan harapan Lionel Messi untuk memberikan gelar juara dunia bagi Argentina. Akhirnya tim Eropa bisa juara di tanahnya benua Amerika.

Statistik Piala Dunia 2014, Menjelang Pertandingan Terakhir

Sejauh ini, hingga menjelang laga final, sudah 170 gol tercetak di piala dunia 2014. Dari jumlah itu, sebanyak 6 gol dibuat oleh James Rodriguez, sang top scorer. Lalu berturut-turut 5 gol oleh Thomas Mueller, 4 gol oleh Lionel Messi, Neymar, Robin van Persie, dan 3 gol oleh Enner Valencia, Karim Benzema, Andre Schuerrle, Arjen Robben, Xherdan Shaqiri. Hanya 2 hattrick terjadi, yaitu oleh Thomas Mueller dan Xherdan Shaqiri.

Dalam hal assist, Juan Cuadrado dan Toni Kroos untuk sementara adalah juaranya, dengan 4 assist. Disusul oleh Thomas Mueller, dengan 3 assist. Ada 13 kali hadiah penalti, hanya 1 yang gagal, yaitu ketika dieksekusi oleh Karim Benzema. Ada 5 gol bunuh diri, sepertinya semua terjadi di babak grup. Gol tercepat dicetak oleh Clint Dempsey, yaitu pada detik ke-30 saat USA melawan Ghana.

Secara tim, 10% gol yang terjadi adalah milik Jerman. Sedangkan tim yang paling banyak kebobolan adalah Brazil dengan 14 gol. Separonya adalah andil Jerman. Pertandingan Brazil versus Jerman di semi final memang paling banyak mendapat sorotan karena memecahkan banyak rekor. Pertandingan ini menghasilkan gol paling banyak yaitu 8 gol (skor 7-1 untuk Jerman). Juga rekor margin gol terbesar. Dan yang paling diingat adalah keberhasilan Miroslav Klose menjadi top scorer sepanjang masa dengan 16 gol, melewati rekornya Ronaldo.

Dalam hal clean sheet, Argentina dan Belanda adalah yang terbaik dengan 4 pertandingan tanpa kebobolan. Kredit tentunya untuk kedua kiper, Sergio Romero dan Jesper Cillessen. Tim yang paling sedikit kebobolan adalah Kosta Rika, hanya kemasukan 2 gol. Sedangkan yang cuma numpang bikin 1 gol adalah Kamerun, Honduras, dan Iran. Pencetak gol termuda adalah Julian Green, 19 tahun, saat USA melawan Belgia.

Thursday, July 10, 2014

Akhirnya Jerman vs Argentina, Final Klasik

Tim yang bermain di semi final adalah tim unggulan semuanya. Keempatnya sering bertemu satu sama lain di pentas piala dunia, dengan hasil bervariasi. Kombinasi yang terjadi saat ini adalah Brazil vs Jerman dan Argentina vs Belanda. Eropa dan Amerika Latin berimbang. Finalnya pun akhirnya berimbang.
  
  
Kekalahan Brazil dari Jerman mengejutkan, namun hanya soal skornya. Brazil sudah kelihatan bukan sebuah tim calon kuat juara sejak pertandingan pembuka. Mencapai semi final adalah hasil yang sangat bagus, apalagi jika minimal bisa merebut peringkat ketiga. Tim ini ternyata hanya bisa disatukan oleh Thiago Silva di belakang, Oscar di tengah, dan Neymar di depan. Bahkan tidak hadirnya Silva saat melawan Jerman membuat perekat yang selama ini mencegah gawang mereka dari kebobolan menjadi kering, pertahanan pun kocar-kacir selama 6-7 menit babak pertama.
  
  
Kekalahan Belanda dari Argentina sudah bisa diprediksi dari menurunnya performa Van Persie. Golnya mentereng di pertandingan pembuka, namun di babak gugur dia gagal produksi gol. Pertandingan terakhir melawan Kosta Rika menyedot terlalu banyak energi positif mereka. Akibatnya, mereka takkan mampu bertahan menghadapi satu ronde lagi adu penalti melawan Argentina. Robben dan Sneijder sudah berusaha maksimal, namun harus diakui bahwa kali ini mereka hanya bisa berebut tempat ketiga melawan tuan rumah.
 
 
Jerman vs Argentina adalah pengulangan final piala dunia 1986 dan 1990. Kedudukan imbang sekarang. Dulu ada Maradona. Sekarang ada Messi. Melihat aksi Argentina melawan Belanda, saya saja bosan dengan kurangnya gairah. Seolah mereka memang bermain mengulur waktu untuk menunggu tos-tosan adu penalti. Berbeda dengan Jerman vs Brazil. Saya lebih terhibur menyaksikan emosi yang bercampur banyak gol dalam intensitas tinggi. Emosi di pihak Brazil karena cederanya Neymar dihadapi oleh Jerman dengan dingin dan klinis, nyaris tanpa emosi.
  
  
Lalu kira-kira bagaimana hasil finalnya? Ini adalah tanah Amerika Latin dan ini adalah panggungnya Messi. Jika dia mampu cetak gol dan pastikan kemenangan Argentina, dia akan langsung peroleh Ballon d'Or lagi tahun ini.

Sunday, July 6, 2014

Tim Underdog vs Tim Langganan Unggulan

Dalam artikel sebelumnya, saya sudah berharap bahwa ada kejutan di 8 besar piala dunia 2014. Kolombia, Prancis, Kosta Rika, Belgia sudah bermain ciamik sejak penyisihan grup, bahkan sejak kualifikasi di zona masing-masing. Sayang tak ada yang berhasil menembus semi final. Masih ada tembok yang terlalu tinggi untuk bisa dilewati. Tembok itu bernama Brazil, Jerman, Belanda, Argentina. Brazil diuntungkan oleh 'angin' yang selalu berhembus dari tribun pendukung tuan rumah. Jerman diselamatkan oleh tradisi 4 besar. Belanda dibantu oleh taktik yang bertemu keberuntungan di saat bersamaan. Argentina tertolong oleh nama besar punggawanya.
  
  
Beberapa nama layak dikenang dari tim-tim underdog ini. Kolombia punya James Rodriguez dan Juan Cuadrado walaupun tanpa Radamel Falcao. Paul Pogba dan Mathieu Valbuena bermain apik untuk Prancis setelah ditinggal Frack Ribery. Joel Campbell dan Bryan Ruiz menaikkan level Kosta Rika meskipun tiada Alvaro Saborio. Divock Origi dan Kevin de Bruyne semakin mengkilap dalam armada 'emas' Belgia.
  
  
Jika diperhatikan lebih seksama, semua tim di 8 besar adalah juara di grup masing-masing. Ini menunjukkan cukup seimbangnya kekuatan antara tim 4 besar dengan 4 tim yang mereka kalahkan. Kolombia juara grup dengan nilai sempurna hasil mempecundangi Yunani, Pantai Gading, dan Jepang. Kosta Rika juarai grup neraka setelah kangkangi Uruguay, Italia, dan Inggris yang jauh lebih flamboyan. Prancis adalah juara dari grup yang terdiri dari Swiss, Ekuador, Honduras. Belgia jadi juara grup setelah taklukkan Aljazair, Rusia, dan Korea. Di 16 besar, keempat tim ini pun menyingkirkan para runner up grup seperti Uruguay, Nigeria, Yunani, dan Amerika.
  
  
Seperti yang banyak dikatakan orang, mungkin ini piala dunia yang paling menarik dibanding sebelumnya. Banyak gol tercetak dan banyak tim non unggulan yang bikin kejutan. Tapi tak ada semifinal sebaik ini: Brazil vs Jerman, Argentina vs Belanda. Terlalu ideal dan susah terwujud. Fantastis!

Saya lebih menyukai duel sesama Amerika Latin di final. Ini adalah tanah mereka. Jerman dan Belanda sudah bermain cukup bagus sebagai turis disana. Namun mengingat Neymar tak akan bermain lagi di sisa babak piala dunia, sementara Messi masih berpeluang, maka kita bisa bayangkan bahwa warga Brazil akan menangis lagi di Maracana.

Wednesday, July 2, 2014

Penjaga Gawang Tim Tersingkir

Berakhirnya 16 besar piala dunia menyisakan memori tentang kiper-kiper yang sudah bermain bagus membela gawang timnya dari serbuan striker top dunia. Kita tentu tidak bisa menyaksikan mereka lagi di babak selanjutnya.

-Guillermo Ochoa, Mexico: http://m.youtube.com/watch?v=Pax9GQny7tE

-Vincent Enyeama, Nigeria: http://m.youtube.com/#/watch?v=pYpfYKn1LC4

-Rais M'Bolhi, Aljazair: http://m.youtube.com/#/watch?v=Ix6baVJEEqg

Dukung Underdog di 8 Besar Piala Dunia 2014

Tim-tim yang tidak punya tradisi juara Piala Dunia biasanya dianggap sebagai penggembira dalam turnamen 4 tahunan ini. Di 16 besar yang telah lewat, semua prediksi saya benar. Itu karena memang sudah takdir semua berjalan lancar untuk tim yang diatas kertas lebih unggul. Namun bagaimana kalau situasi dibalik? Lihatlah Brazil dan Argentina yang belum menunjukkan diri sebagai tim yang pernah punya legenda hidup sebagus Pele dan Maradona. Messi dan Neymar kelihatan sudah bekerja keras namun secara tim belum terlihat sebagai penantang juara yang serius.
  
  
Brazil, Prancis, Jerman, Argentina. Separo tim 8 besar adalah mantan juara. Belanda adalah mantan finalis. Belgia pernah jadi semifinalis. Kolombia dan Kosta Rika adalah pendatang baru, lebih banyak gugur di fase grup. Ini juga turnamen Eropa vs The rest of the world, mengingat separo tim 8 besar berasal dari Eropa.
  
  
Prancis vs Jerman. Dua mantan juara. Keduanya selalu jadi unggulan. Biarpun liga mereka tak sedahsyat Inggris dan Spanyol, mereka rutin menghasilkan pemain bagus dan tim yang kuat. Lalu siapa yang menang kalau imbang begini? Mungkin adu nyali tendang penalti jadi penentunya. Prancis sedang dalam form-nya dan bisa maju ke 4 besar. Mereka menang meyakinkan melawan Nigeria meskipun butuh 80 menit untuk mencetak gol pertama. Jerman butuh 120 menit untuk mengungguli Aljazair. Sungguh melelahkan secara fisik dan psikis.
  
  
Brazil vs Kolombia. Brazil sudah saatnya kehilangan peluangnya untuk juara. Tim ini tidak meyakinkan sebagai favorit. Dukungan publik tuan rumahlah yang membuat mereka masih tiba di 8 besar. Melawan Chile mereka hanya bisa menang lewat adu penalti. Jelas melelahkan. Underdog justru lebih enak dilihat. Mereka sudah bermain baik sejak kualifikasi zona Amerika Latin. Walau tak ada Radamel Falcao, namun ada James Rodriguez dan Juan Cuadrado yang mencuat namanya. Kolombia sudah saatnya ke 4 besar. Jalanan Brazil bisa penuh oleh demonstrasi lagi.
  
  
Argentina vs Belgia. Kedua tim butuh babak perpanjangan waktu untuk kalahkan lawannya di 16 besar. Seperti Brazil, Argentina akan kesulitan menghadapi tim yang berkualitas karena mereka sendiri belum seperti sebuah tim yang layak disebut kuat. Messi seperti bermain sendiri. Dan maaf, DNA Messi sepertinya bukan di piala dunia. Sementara Belgia, pemain mereka sedang dalam usia emas. Kualitas mereka semakin baik dari hari ke hari. Belgia lebih pantas ke 4 besar.
  
  
Belanda vs Kosta Rika. Semua pasti akan jagokan Belanda karena tradisi. Namun mereka sempat kesulitan hadapi Mexico yang notabene tak sebaik Kosta Rika di zona CONCACAF. Butuh 88 menit untuk mengejar ketinggalan dan mencetak gol kemenangan yang lebih mirip sebuah keberuntungan yang banyak. Kosta Rika pasti kelelahan setelah kalahkan Yunani lewat adu penalti. Namun mereka seharusnya bisa meredam agresifitas Belanda, dan mencuri kemenangan lewat Joel Campbell dan Bryan Ruiz. Kosta Rika siap maju ke 4 besar.
  
  
  
Akhirnya, Kolombia vs Prancis, dan Belgia vs Kosta Rika di semi final. Akankah tim Eropa berjaya di tanah Latin?

Tuesday, July 1, 2014

Pemain Terbaik Piala Dunia 2014 Versi Statistik 2 Minggu Pertama

Penjaga gawang: Vincent Enyeama, Guillermo Ochoa, Claudio Bravo, Diego Benaglio, Tim Howard. Sayangnya 3 nama pertama timnya sudah tersingkir di 16 besar. Padahal jumlah save mereka mengungguli kiper-kiper dari liga utama seperti Neuer, Cesar, Romero, Lloris.

Pemain bertahan: Giorgio Chiellini, Gary Medel, Daniel van Buyten, Daniel Alves, Rafael Marquez, Per Mertesacker, Mats Hummels, Benedikt Howedes. Masuknya pemain tua seperti Marquez menunjukkan betapa kualitasnya masih mumpuni di level atas.

Pemain tengah: Juan Cuadrado, Arjen Robben, James Rodriguez, Miralem Pjanic, Javier Mascherano, Blaise Matuidi, Mathieu Valbuena. Duo Kolombia tampil impresif sejauh ini. Kolombia jadi juara grup bahkan maju hingga 8 besar.

Pemain depan: Neymar, Karim Benzema, Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Asamoah Gyan, Alexis Sanchez, Robin van Persie. Semua adalah nama-nama mentereng di liga Eropa.

Jika ingin lihat analisa lebjh lengkap, silakan buka BBC.