Sunday, January 11, 2015

Indonesia Sedang Dibenahi Jokowi

Indonesia sedang dibenahi oleh Jokowi and his team. Indonesia punya situasi politik, ekonomi dan sosial yang super runyam sehingga butuh tangan seorang 'manusia pilihan' untuk meluruskan semuanya. Setidaknya itu menurut pendukung 'salam dua jari' di Pemilu lalu.

Slogannya adalah kerja kerja kerja. Kerja harus gerak cepat srat-sret-srat-sret. Tak usah dipikirkan bagaimana kontinuitasnya, yang penting adalah gebrakan pertama. Karena inilah konsumsi favorit media mainstream, karena inilah yang dipuja-puji para pengagum.

Mobil ESEMKA dipandang sebagai ide sangat brilian waktu itu. Kita memang harus bisa berdikari secara teknologi. Kenapa harus tertinggal dari negara tetangga. Jadi Esemka diarak menuju ketenaran. Dipukul kendi air dan dibawa ke ibukota agar semua terkesima. Tak usah peduli apa nasib Esemka saat ini, toh rakyat kita gampang lupa dan dibuat lupa.

Bagi Jokowi, koalisi itu harus tanpa syarat. Dia tidak merasa perlu untuk bagi-bagi kepada semua tim pendukung kampanyenya. Tidak ada itu politik balas budi. Semua pejabat dipilih karena profesionalitas belaka. Kebetulan saja kalau kenal dekat.






Point (ii) Penting

Saturday, January 10, 2015

Rezim Baru, Liberalisme Makin Menjadi-jadi

Subsidi BBM dan elpiji sudah dicabut. Subsidi listrik sedang dicabut bertahap. Tak ada beras gratis Raskin untuk rakyat miskin. Subsidi kereta ekonomi ditiadakan. Subsidi pupuk untuk petani juga menunggu giliran dihapuskan.

Pencabutan subsidi adalah upaya untuk mengurangi beban berat anggaran negara. Tujuannya tentu agar anggaran lebih lincah bisa dipakai membiayai kebutuhan lain. Jadi, anggaran adalah panglimanya. Jika anggaran bilang YA, maka pos pengeluaran pun sah sudah. Dan sebaliknya jika TIDAK.

Anggaran yang bebas dari segala macam pengeluaran subsidi untuk rakyat tidak diragukan lagi akan jadi anggaran yang lebih gesit. Itu mungkin tujuan yang ingin dicapai rezim Jokowi. Jika rezim sebelumnya, SBY, dianggap terlalu lamban di sisi pembangunan infrastruktur, maka rezim Jokowi ingin menjadi antitesanya. Kelincahan Jokowi beranjangsana (baca: blusukan) tentu harus ditopang anggaran yang sama lincahnya.

Dalam bayangan saya, dengan hilangnya subsidi atas beberapa barang modal, diharapkan semangat kompetisi akan makin kencang. Sektor swasta bebas berekspansi, datangkan utang luar negeri ataupun saham asing sebanyak-banyaknya, agar roda ekonomi bergerak kencang. Tak ada lagi ketimpangan antar pelaku ekonomi, antara yang memanfaatkan subsidi maupun yang tanpa subsidi. Semua harus berjuang untuk hidupnya masing-masing. Tak diragukan lagi, kita sudah di fase lanjutan dari kombinasi maut liberalisme dan kapitalisme bertopang demokratisme. Kenaikan harga yang terjadi adalah efek "sementara" akibat dari hilangnya subsidi. Harga-harga akan bergerak ke titik keseimbangan baru.

Akibat dari kompetisi di pasar bebas, tentu saja akan ada yang menang dan yang kalah. Yang menang akan makin besar, ekspansi yang didukung oleh naiknya nilai saham mereka. Yang kalah akan bangkrut, mungkin pekerjanya jadi pengangguran, lalu aset dibeli oleh pemodal lain atau jadi barang bekas, tergantung skalanya.

Yang tak punya modal dan kalah terampil akan jadi pengangguran dan jatuh miskin. Bagaimana sebuah rezim liberal menangani ini? Tiga Kartu Sakti itulah jawabannya. Masyarakat miskin harus dijamin kesehatan dan pendidikan anak-anaknya. Tapi jangan dijejali subsidi. Modali mereka untuk berkompetisi lagi, dan jika kalah, ya bagaimana lagi. Toh kartu sakti masih ada, hanya subsidi yang tidak ada.

Tidak ada Jaring Pengaman Sosial. Ini kan bukan rezim sosialis!

Akibat dari Standar Ganda

Charlie Hebdo berdarah! Majalah satir ini sebenarnya tidak begitu laku di Perancis. Tapi namanya jadi mencuat terkenal ke seluruh dunia setelah peristiwa pembantaian pemimpin dan anggota redaksinya minggu lalu.

Dari definisinya, mengutip laman Wikipedia, SATIR itu bentuk karya seni dan sastra yang menggunakan gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satir biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Istilah ini berasal dari frase bahasa Latin satira atau satura (campuran makanan).

Jurnalisme satir ini sudah ada sejak jamannya Marie Antoinette, sekitar abad 18. Jika dulunya yang dijadikan bahan sindiran adalah anggota keluarga kerajaan atau kaum ningrat, maka sekarang yang jadi bahan adalah politisi, polisi, bankir, dan agama. Maka jika mereka sampai memparodikan Rasulullah SAW, itu memang sudah keahlian alamiahnya.

Soal berlindung dengan tameng freedom of speech, juga mereka ahlinya. Tapi jika ada yang tidak senang Rasulullah SAW ataupun gambaran umat Islam diparodikan, lalu melakukan aksi, baik unjuk rasa damai ataupun tindak kekerasan seperti yang kita saksikan minggu lalu itu, maka stempel anti-semit yang akan diberikan.

Thursday, January 8, 2015

Iklan Rokok, Iklan Paling Kreatif

Maaf jika anda tak sependapat. Menurut saya, iklan produk rokok, khususnya di Indonesia, memang luar biasa kreatif. Mereka sangat dibatasi dalam beriklan. Tak boleh menampilkan gambar produknya, dan harus menambahkan gambar seram akibat dari merokok bagi kesehatan.

Dengan aturan yang ketat ini, tak heran jika agensi periklanan untung besar, karena mereka harus berpikir keras out-of-the-box untuk menghasilkan iklan yang tetap menarik di tengah jepitan peraturan. Hasilnya adalah iklan-iklan legendaris seperti "how low can you go", "susah jadi manusia". Yang dijual kebanyakan adalah gaya hidup, dan orang masih mengenali itu sebagai iklan rokok.

Namun kreatifitas tidak bebas nilai jika dipampang di depan publik. Dia harus tunduk pada tuntunan moral masyarakat. Masa sih ada gambar orang ciuman di tengah kosmopolitan masyarakat muslim? Ini semakin meyakinkan bahwa muslim di Indonesia mayoritas adalah "abangan", lebih cenderung ke sekuler. Iklan "mula-mula malu-malu lama-lama mau" adalah eksperimen "test the water" yang kesekian kalinya. Ini sekedar bukti penampakannya.

Tuesday, January 6, 2015

Dagelan Konsistensi di Awal 2015

Jaman rezim "blusukan" ini, banyak yang bisa dijadikan memori sejarah untuk diambil hikmahnya oleh generasi penerus nanti. Salah satu pembelajaran yang berat adalah soal konsistensi. Kepaduan antara ucapan dan tindakan.

Inilah beberapa contoh inkonsistensi, baik oleh perorangan maupun kelompok yang tidak boleh direplikasi di masa depan. Saya ambil dari twitter (@malakmalakmal).

Sunday, January 4, 2015

Kalender Puasa Tahun 2015

Yang seperti ini patut pula di-share. Kalender puasa tahun masehi 2015.

@musyafiesyafiie: @jonru Kalender puasa Tahun 2015 bagi yang membutuhkan. Semoga bermanfaat.. pic.twitter.com/Md63J2HkVv -- shared via UberSocial http://ubersocial.com

Saturday, January 3, 2015

Antara Idealisme dan Pragmatisme Jokowi

Kau yang berjanji, kau yang mengingkari...

Apalah arti sebuah janji. Apalagi jika itu hanya untuk pemanis saat kampanye. Idealisme itu harus dipelihara dengan implementasi yang sesuai. Jika implementasi berlawanan dengan ide awal, maka jadilah pragmatisme.

Jika rezim sebelumnya terkenal sebagai rezim auto-pilot, maka rezim sekarang boleh disebut rezim pragmatis. Cari gampangnya saja, biarpun tidak konsisten.