Friday, November 7, 2014

Persib dan Persipura Juara Bersama 2014

Sudah tentu pemenang di final hanya satu. Tapi Persib yang juara, ataupun Persipura, sebenarnya sama saja. Keduanya pantas mewakili Indonesia di AFC CUP tahun depan.

Persipura tahun ini menjalani dua kompetisi sekaligus: ISL dan AFC. Di ISL mereka sampai di final. Di AFC mereka sampai semi final. Prestasi yang bagus. Persib hanya ikuti ISL dan disaingi oleh tim sekota, PBR.

Persipura punya superioritas skill yang dengan 10 pemain saja masih bisa menekan 11 pemain Persib. Sayang sekali mereka kalah dari Qadsia di AFC. Seharusnya mereka bisa menembus final kompetisi kasta kedua di Asia itu.

Persib seperti Arema, punya banyak pemain nasional, tapi tak konsisten. Tim penuh kolektifitas di masa lalu telah berubah menjadi tim pengoleksi bintang di masa kini. Jika roh Persibnya Sutiono bisa dimunculkan, mereka akan kembali jaya.

Di AFC CUP 2015, Persipura diharapkan bisa lebih baik lagi. Kalau bisa juara, kenapa tidak? Masalah mereka hanyalah soal motivasi. Maukah mereka unjuk kekuatan di level Asia. Apakah target jadi juara ISL sudah cukup bagi mereka tiap tahunnya?

Untuk Persib, mestinya level mereka tidak jauh dari tim lain di AFC CUP. Tim Hong Kong, Kitchee FC, mestinya berimbang dengan mereka. Jika Kitchee bisa sampai final AFC CUP, mengapa Persib tidak?

Perlukah Kolom Agama Dihapus dari KTP?

Mendagri sudah melempar rencana untuk tiadakan atau setidaknya boleh tidak mengisi kolom AGAMA di KTP. Salah satu tujuannya agar penghayat kepercayaan diluar 6 agama resmi bisa punya e-KTP.

Ide ini sudah lama disuarakan oleh kalangan liberal. Jadi inget. Kata siapa pemerintahan sekarang bukan liberal? Banyak pendukung capres yang mengagumi idealisme capresnya. Tapi politik tidak mungkin diisi idealisme belaka tanpa ideologi. LIBERAL VS KONSERVATIF. Liberal kali ini sedang menguasai eksekutif.

Agama bukan bagian dari identitas warga negara? Tidak mungkin. Informasi agama jelas dibutuhkan untuk analisa statistik. Orang pindah agama pun butuh pengesahan dari lembaga resmi.

Agama perlu ada di database penduduk, tapi tak perlu dicetak di KTP? Ini debatable. Apa fungsi KTP? Dalam keadaan apa KTP harus ditunjukkan untuk membuktikan agama seseorang? Setidaknya kita mungkin akan divalidasi soal agama saat mau mendaftarkan pernikahan secara agama dan ketika akan mendaftar haji. Dan informasi agama sifatnya mandatory dalam situasi ini.

Bagi saya, lebih baik informasi agama tetap ada di KTP. Manfaatnya ada kok. Kecuali kalau lebih banyak masalah dibanding manfaatnya. Atau akan membahayakan nyawa manusia jika di KTP ada informasi itu.

Dari sudut pandang Islam, lebih baik kolom agama dipertahankan. Ini bisa jadi pembeda resmi mana muslim mana bukan. Dari KTP secara sederhana orang awam bisa menentukan apakah seorang lelaki boleh menikahi seorang muslimah. Itu salah satu contoh manfaatnya.

Kalaupun dorongan nafsu liberal lebih kuat sehingga pemerintah pun menghapus sama sekali kolom "agama", maka yang tidak setuju ya cukup ikuti koridor demokrasi, hehe. Pilih calon konservatif saja di pilpres berikutnya.

Perlukah Harga BBM Dinaikkan?

Pemerintah memang sudah pasang kuda-kuda untuk menaikkan harga BBM. Polisi menyatakan siap pasang badan untuk melindungi kebijakan pemerintah ini.

Bagi pemerintah, menaikkan harga BBM suatu pilihan logis. Kita bukan lagi negara produsen minyak. Kebutuhan minyak dalam negeri disuplai lewat impor.

APBN 2013 sangat terpengaruh oleh harga BBM ini. BBM yang dijual Pertamina ke rakyat sebagian harganya disubsidi oleh pemerintah. Jadilah harga fixed saat ini 6500 Rupiah per liter di SPBU Pertamina.

Harga diatas sudah tidak wajar lagi karena sudah jauh dibawah harga beli+proses Pertamina. Fluktuasi harga minyak mentah di pasar internasional membuat subsidi BBM semakin besar. Buat pemerintah, habislah anggaran pembangunan kalau dipakai untuk subsidi doang.

Padahal pengguna BBM subsidi ternyata campuran antara masyarakat kelas menengah ke bawah dan kelas atas. Pemilik kendaraan mewah sadar tidak sadar juga menikmati subsidi yang seharusnya untuk masyarakat miskin ini.

Solusi pemerintah adalah naikkan harga BBM, mungkin jadi 9500 Rupiah. Jatah subsidi BBM dialihkan ke bantuan tunai untuk masyarakat miskin. Segala macam kartu sakti juga akan dikeluarkan agar seolah-olah kenaikan harga BBM justru menguntungkan warga miskin.

Bagi pemerintah, subsidi BBM lebih baik dialihkan untuk bangun jalan, jembatan, kilang minyak. Pengguna kendaraan juga harus disadarkan bahwa mereka pada hakikatnya menghamburkan uang negara. Jadi kenaikan harga BBM juga agar pengguna kendaraan pribadi mau beralih ke angkutan umum yang kualitasnya masih menyedihkan itu.

Solusi dari ekonom Rizal Ramli lain lagi. Produk Premium Pertamina harus dibagi dua. Produk pertama dengan harga sama tapi oktan lebih rendah untuk sepeda motor. Produk kedua dengan oktan tetap sama tapi harga lebih tinggi untuk mobil. Pengguna mobil diharapkan tidak akan lari ke oktan yang lebih rendah karena performa mesin yang jadi taruhannya.

Mana solusi yang lebih masuk akal?

Angka Kecelakaan dan Road Safety

@luckysubiakto: Pagi Indonesia! Di sela2 kegaduhan,ternyata kita kehilangan cukup banyak USIA PRODUKTIF di jalan raya. #roadsafety pic.twitter.com/LsGeJZgY9v

Itu adalah kicauan salah satu pengguna twitter pagi ini. Sekilas memang grafik biasa, namun selalu relevan untuk jadi bahan pengingat.

Pengguna kendaraan tentulah orang dewasa. Jika tidak, bagaimana bisa punya SIM. Tapi apa yang diperbuat setelah mempunyai SIM itulah yang menjadi pembeda.

Di jalanan kita dituntut untuk bertanggung jawab. Itu tuntutan yang wajar bagi manusia dewasa dimanapun. Termasuk tanggung jawab untuk berkendara dengan hati-hati dan waspada.

-Kalau mau pindah jalur, lakukan lebih awal. Jangan mendadak.
-Selalu gunakan lampu sein kalau mau membelok.
-Izinkan kendaraan lain yang ingin mendahului Anda.
-Pertahankan jarak aman 3 detik dengan kendaraan di depan Anda. Jika cuaca buruk, naikkan jadi 6 detik.


Thursday, November 6, 2014

Moratorium, Jangan Jadi Pegawai Negeri Sipil

Di Bengkulu, lowongan pekerjaan yang paling bergengsi adalah lowongan CPNS. Tiap tahun, masa penerimaan CPNS adalah saat yang ditunggu-tunggu. Biasanya pengumumannya sudah standar: dibuka posisi di Pemda A sekian formasi, Pemda B sekian formasi, dokter sekian formasi, insinyur sekian formasi, dll.

Persaingan jadi CPNS sangat ketat. Mungkin lebih ketat daripada SNMPTN. Di masa lalu, jika tak punya beking atau tak nyogok, tak bakal lolos. Tak ada urusan dengan kualitas.

Maka ide pemerintahan Jokowi-JK untuk moratorium penerimaan PNS patut didukung. Selama 5 tahun ke depan, jangan harap ada kesempatan jadi PNS. Setidaknya itu yang saya baca. Kata Pak JK, kita tidak kekurangan PNS. Moratorium ini bisa menghemat anggaran 1 trilyun per tahun.

Tapi menurut Pakde Karwo, Jawa Timur saja masih kekurangan 12 ribu PNS. Bagaimana mau moratorium? Mudah-mudahan moratorium tetap terlaksana sepenuhnya dan tidak jadi salah satu diantara banyak janji kosong Pilpres.

PNS tidak boleh jadi solusi mengatasi pengangguran. Pengangguran seharusnya ditanggulangi dengan investasi di sektor riil. Sektor swasta. Jangan ada lagi yang seperti Bengkulu, urusan PNS jadi urusan super penting orang satu propinsi, bagai urusan hidup dan mati.

Dari One Day One Ayat ke One Day One Arabic Word

Al-Qur'an faktanya adalah undang-undang yang diturunkan Allah SWT dalam bahasa Arab. Siapapun orangnya, dari bangsa apapun,  selama ia muslim, akan membaca Qur'an dalam bahasa Arab. Shalat pun bacaannya dalam bahasa Arab. Lalu kenapa protes ke Yusuf Mansur?

Yusuf Mansur seorang da'i. Tugas da'i mengajak kepada Islam yang komprehensif. Islam agama yang luas, mengatur segala aspek kehidupan.

Al-Qur'an masih orisinal 100%. Belum dicabut dari bumi, jutaan orang hafal minimal sepotong. Hadits shahih juga masih terawat. Semua masih dalam bahasa aslinya. Tidak seperti agama sebelah.

Hafal Al-Quran dan hadits bagus. Lebih baik lagi jika paham. Shalat jangan sekedar ucapkan bahasa Arab tanpa sadar artinya. One day one ayat, itu kampanye YM untuk para penghapal Al-Quran.

One day one Arabic word, itu kelanjutannya. Bukan sekedar Arabic word yang mesti kita kembangkan, tapi itu haruslah Quranic word. Logis!

Bagaimana meresapi isi Al-Quran kalau kita tidak bisa meresapi makna rangkaian kata dalam bahasa Arab yang ada di dalamnya? Ngapain pake terjemahan kalau masih ada aslinya yang terawat 100%. Bisa 'lost in translation' nanti.

Dulu Anton Hilman dalam seri pelajaran bahasa Inggris di TVRI pernah menganjurkan agar kita belajar kosakata English cukup satu kata saja sehari. Lama-lama dalam setahun minimal kita dapat 300 kata yang berhasil dihapal. Lumayan. Apakah YM tidak boleh berkampanye serupa untuk bahasanya Al-Qur'an?


TNI AU Jangan Sampai Tekor

http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/11/05/nekplv-sergap-pesawat-asing-tni-au-mengaku-tekor

Koran online lokal memberitakan bahwa dalam beberapa minggu terakhir TNI AU terpaksa melakukan penyergapan terhadap 3 pesawat sipil asing yang masuk wilayah udara RI tanpa izin. Ada pesawat Beechcraft dari Australia menuju Filipina. Ada pesawat Beechcraft lainnya dari Singapura menuju Filipina. Dan terakhir pesawat Gulfstream dari Arab Saudi-Singapura menuju Australia.

Tampaknya wilayah udara RI jadi jalur yang sibuk dilewati pesawat yang hendak menuju ke dan dari wilayah Oceania/Pasifik. Kalau tanpa izin, berarti mungkin mereka meremehkan kemampuan TNI AU dalam melakukan penindakan. Tapi bisa jadi ada faktor lain.

Ternyata semua pesawat diatas, akhirnya dilepas setelah melengkapi administrasi sesuai prosedur dan membayar dengan USD 6000. Murah sekali. Padahal biaya pengoperasian Sukhoi SU-27/30 MKI Flankers itu kira-kira 100 juta Rupiah per jam per pesawat.

Artinya, tanpa harus minta izin pun, pesawat asing bisa santai saja melintasi wilayah udara di bawah ketinggian 10000 meter dengan sedikit kucing-kucingan, mudah-mudahan tidak tertangkap radar RI. Jika pun tertangkap, mereka paling-paling hanya disuruh mendarat. Lalu otoritas Indonesia paling-paling hanya menginterogasi, menyuruh membuat surat izin, menyuruh bayar 6 ribu Dollar (itu pun mungkin boleh pake kartu kredit, hahaha), lalu silakan terbang lagi.

TNI AU sebagai pelaksana pengamanan tidak boleh rugi bandar. Undang-undang harus diperbaiki. Semua pesawat yang dipaksa turun di wilayah RI harus bayar denda sesuai biaya aktual yang dikeluarkan untuk menerbangkan pesawat tempur kita. Kalau kita terpaksa meluncurkan 2 pesawat selama 3 jam untuk menyergap satu pesawat asing tanpa izin, maka pemilik pesawat asing itu harus merogoh minimal 600 juta dari kantongnya. Mungkin perlu ditambah biaya pelaksanaan sesuai rate tiap pilot tempur kita (pilot tempur kita rata-rata pangkatnya Mayor hingga Letnan Kolonel. Konsultan IT aja ada rate per jam sekian Dollar).

Kalau mereka tidak bisa bayar, pesawatnya harus disita, dilelang, hasil lelangnya dibagi. Mereka yang coba melintas tanpa izin harus dibuat kapok. Ini juga peringatan untuk otoritas udara Changi. Jangan sok mengatur lalu lintas diatas wilayah udara RI. Kita punya pesawat tempur selalu standby lho. Yang berani melintas asal-asalan bakal disikat.