Wednesday, December 31, 2014

Bravo Basarnas, Sayang Terlambat

Media mainstream banyak yang sedang mengelu-elukan keberhasilan Badan SAR Nasional, di bawah pemerintah Indonesia (baca: Jokowi). Katanya, keberhasilan menemukan serpihan pesawat AirAsia QZ8501 di Laut Jawa ini termasuk tercepat dibandingkan pengananan situasi serupa di negara lain. Katanya ini semacam pembuktian kemampuan kepemimpinan Jokowi dan jajarannya. Katanya, kalau urusan pesawat jatuh saja mereka sudah begitu rapi begini, apalagi jika dihadapkan pada krisis yang lebih buruk.

Tapi di sisi lain, saya awalnya berharap semua penumpang itu terselamatkan. Bayangkan, pesawat jatuh Minggu pagi, tapi harus menunggu hingga Selasa pagi untuk menemukan lokasi TKP terduga. Dan sampai hari ini, Kamis, baru segelintir mayat yang ditemukan. Alasan utama adalah cuaca buruk. Padahal saya pikir, andai pesawat ditemukan lebih cepat, masih ada harapan para penumpang yang terjebak bisa diselamatkan sebelum pesawat sampai di dasar laut. SAR kita tidak tambah pintar. Pasti soal anggaran yang minim jadi kambing hitam.

Apakah ini lagi-lagi permainan opini masyarakat? Bahwa walaupun cuaca "sangat buruk" Basarnas tetap sukses menemukan pesawat yang "hilang" itu dalam 3 hari saja? Masih jauh lebih baik dibanding otoritas Malaysia yang urusan MH730 penuh kesimpangsiuran dan tak selesai juga hingga hari ini?

Inilah memori 2014 dari sudut pandang keselamatan penerbangan.

Sunday, December 28, 2014

Saya INDON dan Saya Bangga

Ada-ada saja bahan untuk menciptakan konflik. Berebut hak orisinalitas makanan lah, hak orisinalitas kesenian lah. Lalu soal sebutan pun bisa jadi pemicu pertengkaran dengan orang serumpun di semenanjung Malaya sana. Orang Malay dan Sing biasa memanggil kita Indon.

Sebenarnya sebutan Indon ini katanya sudah lama dialamatkan ke buruh migran alias TKI kita disana. Karena buruh migran identik dengan pembantu rumah tangga atau kuli bangunan, maka orang Indonesia yang bukan pembantu rumah tangga atau kuli bangunan pun merasa tersinggung. Jadi sebenarnya yang merasa direndahkan siapa sih?

Kalau Anda peduli dengan nasib TKI kita dimanapun, mestinya Anda tak punya masalah untuk duduk sejajar dengan mereka. Apakah derajat Anda lebih tinggi dari mereka? Kalau mereka dipanggil dengan "Indon" oleh majikan Melayu ataupun Peranakan mereka, maka Anda yang jadi majikan di negeri sendiri tidak usah malu.

Dengan sedikit usaha, kita mestinya bisa membelokkan makna "Indon" menjadi lebih terhormat. Orang Indon tak kenal takut. Orang Indon penguasa lautan. Orang Indon bukan budak lembaga keuangan Barat. Orang Indon punya etos kerja, kerja, kerja, bukan pencitraan.

Missing Flight AirAsia QZ8501

Seperti disebutkan oleh reporter Channel News Asia barusan, tahun 2014 ini sudah jadi tahun yang berat untuk penerbangan Malaysia. Dengan 2 kecelakaan beruntun menimpa Malaysia Airlines dan kini Air Asia juga. Mari berharap yang terbaik untuk penumpang QZ8501 dan keluarganya.

Saya masih berharap pilot berhasil menahan laju pesawat menghadapi cuaca buruk (awan tebal, dan petir seperti di salah satu gambar ini) lalu mendarat darurat di perairan sekitar Belitung dan diselamatkan oleh para nelayan disana. Amiin.

Saturday, December 27, 2014

Lemahnya Sistem Uang Kertas

Tulisan lama Zaim Saidi di harian Republika ini singkat tapi penuh informasi. Saya baru tahu bahwa Rupiah mata uang RI itu awalnya dipatok ke kurs 1 USD = 3,8 IDR. Seiring waktu, nilainya terus jatuh hingga 1 USD = 12625 IDR hari ini.

Pesan sponsor: Mari berinvestasi emas. Cobalah juga bertransaksi dengan dinar/dirham.

Pria dan Wanita, Tutuplah Auratmu

Soal menutup aurat, penjelasannya sudah dibahas dimana-mana, misalnya di link ini:

http://hizbut-tahrir.or.id/2009/06/12/ancaman-bagi-wanita-yang-membuka-auratnya/

Kesimpulan yang bisa ditarik dari penjelasan panjang lebar dari link diatas antara lain:

Syariat Islam telah mewajibkan wanita untuk menutup anggota tubuhnya yang termasuk aurat. Seorang wanita diharamkan menampakkan auratnya di kehidupan umum, di hadapan laki-laki non mahram, atau ketika ia melaksanakan ibadah-ibadah tertentu yang mensyaratkan adanya satru al-’aurat (menutup aurat).

Aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Seseorang baru disebut menutup aurat, jika warna kulit tubuhnya tidak lagi tampak dari luar. Dengan kata lain, penutup yang digunakan untuk menutup aurat tidak boleh transparan hingga warna kulitnya masih tampak; akan tetapi harus mampu menutup warna kulit.

Ancaman bagi yang tidak menurut aurat adalah tidak mencium bau surga alias neraka, karena tidak amanah, tidak tunduk kepada aturan sang Kholik.[Arief Adiningrat]

Aurat pria hanyalah antara pusar dan lutut. Memang sedikit, tapi pria muslim modern metroseksual banyak yang bandel melanggarnya. Sedangkan aurat wanita adalah seluruh lekuk tubuhnya, kecuali telapak tangan dan muka. Maka gambar berikut bisa jadi pecut yang memacu semangat bagi yang butuh menyempurnakan penutup auratnya.

Bulan Banjir, Akankah Terus Terulang?

Bulan-bulan banjir itu biasanya dimulai dari Desember, lalu lanjut ke Januari dan Februari. Kota-kota yang dilalui sungai mulai terancam. Salah satunya ya Daerah Khusus Ibukota kita Jakarta. Seperti langganan, warga sekitar sungai harus membayarnya secara terpaksa. Mereka pun sedikit demi sedikit menyesuaikan diri dan mulai terbiasa. Kalau air mulai naik, ya pindah ke tempat pengungsian yang ada dimana-mana. Kalau punya uang lebih, mereka bisa bangun rumah hingga 3 lantai. Jadi saat banjir datang mereka tinggal naik ke loteng.

Penyesuaian juga terjadi pada warga kota lainnya yang jauh dari sungai. Jika air mulai meninggi, sukarelawan bermunculan. PKS dan FPI mendirikan posko-posko bantuan. Tagana dan PMI mulai beroperasi di wilayah banjir. Media menyorotkan kameranya dan membuat siaran langsung breaking news bencana. Semua sudah punya peralatan yang dibutuhkan. Semua sudah tahu apa yang mesti dilakukan. Bantuan pun mulai mengalir: makanan siap saji, pakaian bekas pantas pakai, selimut, dan obat-obatan. Semua seperti mengikuti program yang sudah baku.

Akankah skenario drama yang sama dipentaskan terus setiap tahun? Siapa sih yang pernah berjanji akan menghapus banjir dari muka bumi DKI?

Jurus BEJO Taklukkan Negeri Diatas Awan

Di sebuah negeri antah-berantah, pemilihan raja mulai memasuki babak panas. Dua kandidat teratas berhasil menyingkirkan pesaing lainnya. Mereka adalah Adipati Bejo, satria dari pelosok negeri, dan Patih Wowo, tokoh ningrat dari ibukota.

Patih Wowo mengandalkan koneksi selama dia mengurusi angkatan perang kerajaan. Pengikutnya sudah mengagumi dia sejak berhasil mengalahkan angkatan perang negeri tetangga saat memperebutkan gunung emas di perbatasan. Tapi banyak pula yang membencinya karena darah ningrat serta kedekatannya dengan raja lalim di masa lalu. Semua orang masih alergi dengan segala hal berbau si raja lalim.

Adipati Bejo, tokoh dari pelosok negeri. Sebagai seorang Adipati, dia menguasai tanah yang luas dan subur di lereng gunung berapi. Warga lereng gunung berapi menyukai sikap bersahajanya. Sering mereka melihat dia turun ke sawah dan selokan sekedar untuk berbincang dengan petani dan rakyat miskin. Para kuli tinta dan penyair menuliskan bait-bait sanjungan yang sontak membahana di seantero negeri hingga seberang lautan.

Sehari menjelang pemungutan suara akhir, Adipati Bejo mengumpulkan massanya di alun-alun ibukota. Seperti biasa ia melontarkan janji-janjinya yang indah. Seluruh rakyat akan dijamin kesehatannya. Dijamin pendidikannya, juga kesejahteraannya. Jaminannya unik. Semua berupa kartu: kartu pasti sehat, kartu pasti pintar, kartu pasti sejahtera. Banjir besar yang melanda tiap tahun, akan enyah setelah 100 hari ia berkuasa. Jalan raya akan dibangun menghubungkan setiap kota.

Akhirnya, tibalah hari pemilihan raja baru. Para peramal telah menakwilkan mimpi-mimpi bahwa Bejo akan menang mudah. Pada kenyataannya, Bejo memang menang meski selisihnya tipis. Adipati Bejo pun menjadi Paduka Yang Dipertuan Agung Bejo. Akankah ia tetap dicintai rakyatnya?