Saturday, January 31, 2015

Membayar Pajak Motor di Samsat Kota Bekasi

Persiapan:
-Pena
-Staples (dan isinya tentu)
-Kantong plastik kecil seukuran KTP
-BPKB asli
-STNK dan bukti pajak tahun lalu
-KTP (asli Bekasi)

Kronologi:
Sabtu pagi...
08:10 Dari Kalibata naik KRL jurusan apapun ke Manggarai. Lalu menunggu cukup lama di jalur 4.

08:40 Naik KRL jurusan Bekasi turun di Bekasi. Tap di pintu keluar stasiun, biaya naik kereta dari Kalibata hanya 3000 Rupiah saja.

09:05 Dari stasiun, naik angkot 09b, turun di depan Samsat Kota Bekasi. Letaknya tidak terlalu jauh sebenarnya, bahkan bisa dijangkau dengan jalan kaki 30 menit dari stasiun (Siapa yang mau pula? Mending naik angkot bayar 3000 perak).

09:15 Masuk halaman kantor Samsat cari-cari tempat Photocopy, ternyata ada di belakang. BPKB, STNK, bukti pajak lama, KTP, semua difotokopi. Bayar 3000 Rupiah saja.

09:20 Masuk pintu depan, ambil nomor ID. Ke meja informasi, minta formulir. Cari meja buat mengisi formulir. KTP asli masukkan kantong plastik kecil, lalu satukan dengan STNK asli, bukti pajak lama, serta semua fotokopian, lalu staples yang kuat.

09:25 Letakkan berkas di loket lantai satu untuk cek pajak progresif. Tunggu panggilan untuk menerima berkas tadi kembali.

09:30 Naik ke lantai dua, lalu taruh berkas tersebut di loket pendaftaran. Tunggu panggilan.

09:45 Dipanggil untuk tunjukkan BPKB asli, lalu mendapatkan tanda terima. Bergeser ke loket berikutnya untuk tunggu panggilan bayar pajak.

10:05 Loket pembayaran memanggil dan menyuruh bayar Rp 186000, tanda terima dicap, lalu tunggu lagi di depan loket berikutnya (sebelah).

10:16 Panggilan berikutnya untuk serahkan tanda terima, lalu terima STNK, bukti pajak baru, dan KTP asli. Setelah itu istirahat dulu. Ada pedagang yang jual plastik pembungkus STNK, beli 2000 perak.

10:40 Naik angkot 02 ke stasiun Bekasi. Bayar Rp 3000.

10:45 Lompat ke KRL jurusan Jakarta.

11:25 Turun di stasiun Manggarai, pindah ke jalur 6.

11:30 Lanjut naik KRL jurusan Depok/Bogor.

11:40 Keluar stasiun Duren Kalibata. Ongkos naik KRL hanya 3000 Rupiah. Acara selesai.

Total pengeluaran:
6000 (KRL) + 6000 (angkot Bekasi) + 3000 (fotokopi) + 2000 (bungkus STNK) + 186000 (pajak) = 203000 Rupiah.

Monday, January 26, 2015

KPK vs Polri Menarik, Tapi Nasib Freeport Lebih Menarik

Banyak kultwit di medsos yang sudah menjabarkan dugaan ini. Bahwa konflik yang seolah-olah sangat panas antara dua lembaga penegak hukum kita sebenarnya adalah pengalihan isu. Dari apa? Dari isu yang sangat prinsipil tentang kedaulatan republik kita.

Freeport itu akan habis izin operasi tambangnya pada tahun 2021. Pembicaraan tentang perpanjangan kontrak terkendala oleh aturan baru dari pemerintahan SBY, bahwa mereka harus membangun smelter di dalam negeri, dan hanya hasil dari smelter itulah yang boleh diekspor. Freeport ini aslinya adalah perusahaan kecil di USA sana. Namun jadi raksasa setelah memiliki tambang di Papua.

Yang mengesalkan adalah, Freeport baru bisa memenuhi kewajibannya di detik-detik terakhir saja. Itupun baru sekedar komitmen dana 40 T untuk smelter yang sedang direncanakan berdiri diatas tanah Petrokimia Gresik, Jawa Timur. Jadi mereka mengeruk tanah berisi emas di Papua, lalu dikirim lewat TOL LAUT-nya Jokowi #eh, lalu diproses jadi emas murni di Gresik. Pintar sekali. Pantas Lukas Enembe murka. Emas Papua dibawa ke tanah Jawa lalu dikirim ke USA sana.

Padahal semua pihak sudah berharap agar kontrak karya Freeport di Papua cukuplah sampai 2021 saja. Kemudian serahkan hak penambangan disana kepada perusahaan lokal seperti Antam atau BUMN/BUMD apapun namanya. Lho kok ini malah diberi keleluasaan hingga 2041. Piye mbah??

Alasannya karena Freeport menghidupi ribuan karyawan yang berasal dari warga Papua. Jika operasi mereka dihentikan, maka akan makin banyak pengangguran di Papua. Padahal jika BUMN tambang kita yang ambil alih, mereka pasti akan dipekerjakan kembali. Pengangguran sama sekali bukan alasan. Kita bisa menangani tambang itu secara padat karya juga kok.

Jadi mereka menciptakan alasan-alasan tak nyata untuk mempertahankan kekuasaan USA di Papua. Alasan lainnya adalah soal return on investment yang belum tercapai. Saya cenderung tak percaya itu. Mereka sudah puluhan tahun mengeruk bumi disana, tujuan awalnya untuk menambang tembaga, tapi hasil sampingannya banyak sekali, termasuk emas dan (gosipnya) uranium. Dan profit sharing pemerintah RI pun sangat kecil, dan mereka disubsidi cost recovery pula. Masihkah bilang tak untung??

Sunday, January 25, 2015

Selingan Sepakbola, CR7 Menyamar Jadi Tunawisma

_.__

@Footy_Jokes: Cristiano Ronaldo disguised as a homeless man played football with a kid and gives him the surprise of his lifetime. pic.twitter.com/1LU8KIMgsq -- shared via UberSocial http://ubersocial.com

_.__

Dari akun twitter diataslah gambar berikut saya peroleh. Memang jadi bintang sepakbola memberi kemudahan seseorang untuk berbuat apapun. Hanya menyamar sebentar sebagai gelandangan, Cristiano Ronaldo kemudian memberi kejutan kepada seorang anak. Entah kapan dan dimana adegan ini direkam. Tapi setidaknya bisa memberi kita secuil sisi lain dari seorang superstar sepakbola yang hidup serba glamor, kumpul kebo tak jelas, dan barusan menerima kartu merah nomor 9 sepanjang karirnya.

Apa Kata Media, Analis, Tentang Pemerintah Baru Kita

Setelah trending dengan istilah ter-Jonru dan ter-Jonan, kini nama lain mencuat: ter-Tedjo. Pernyataannya yang sangat arif bijaksana telah memancing reaksi yang kurang menguntungkan dari publik yang sedang larut dalam histeria #SaveKPK. Ini sebenarnya histeria fans artifisial yang dibentuk oleh media, karena sudah mirip sandiwara topeng yang diperankan pejabat negara, dipentaskan gratis, dibiayai APBN, dan disiarkan secara live pula.

Meskipun menurut media asing pamor Jokowi telah menurun hanya dalam 100 hari, para pembantu terdekatnya tetap yakin bahwa semua kekisruhan ini bukan karena kesalahan Jokowi. Bahkan analis mengisyaratkan bahwa kepentingan partai politik penyokongnya, serta permainan penguasa lama, sebagai faktor pemanas utama.

Saturday, January 24, 2015

Sabtu 24 Januari, Apa Kabar Rezim Kita

Perselisihan dramatis tengah terjadi di panggung politik dan hukum Indonesia. Persis main catur, setelah semua bidak maju ke depan bersilangan, maka SALING MAKAN pun terjadi. Dimulai dengan umpan calon Kapolri Budi Gunawan oleh Jokowi. Lalu KPK menikung dengan tetapkan BG tersangka kasus rekening gendut perwira Polri. 

Jokowi kembali mengulur persoalan dengan menunda pengangkatan BG sebagai Kapolri, sambil menggeser Kapolri dan Kabareskrim. Pendukung Jokowi pun bermanuver dengan menuduh Abraham Samad ketua KPK pernah mengincar jabatan Wapres ke Jokowi. Lalu serangan balik cepat pun dilakukan Polri dengan menangkap Bambang Widjojanto karena kasus saksi palsu Pilkada Kotawaringin Barat. Terakhir, Adnan Pandu Pradja juga sedang diproses Polri dalam kasus perampasan saham.

Uniknya negara kiri sekuler liberal ini, yang disalahkan atas keributan justru tokoh-tokoh dibalik layar seperti Megawati, Surya Paloh. Akankah terjadi SKAKMAT?

Thursday, January 22, 2015

Telegram Web Versus Whatsapp Web

Dua layanan messaging besar kini sama-sama menawarkan akses Web selain akses tradisional lewat aplikasi Android atau iOS. Perkembangan macam apa ini?

CARA LOGIN TELEGRAM WEB:

Buka alamat web.telegram.org, lalu isi nomor handphone yang ingin digunakan sebagai akun Telegram. Telegram akan mengirimkan kode lewat SMS ke nomor tersebut. Isi di webnya, dan kita akan dibawa masuk ke layar utama Telegram Web.

CARA LOGIN WHATSAPP WEB:

Untuk saat ini baru Chrome browser yang bisa digunakan untuk login ke Whatsapp Web. Buka alamat web.whatsapp.com, masukkan nomor handphone yang MEMANG kita pakai sebagai akun Whatsapp di ANDROID (versi iOS belum bisa). Setelah itu muncul gambar barcode 3 dimensi (QR code) yang harus di-scan dari menu Whatsapp di Android kita (---Menu---Whatsapp Web). Jika scanning berhasil maka akan muncul layar utama Whatsapp Web.

KESIMPULAN:

Menurut saya, proses login di Whatsapp Web lebih ribet dibanding Telegram Web karena menggunakan QR code yang berarti membutuhkan smartphone yang sudah bisa membaca QR code. Soal security-nya sih sama amannya menurut saya. Di Telegram kita harus membuktikan diri sebagai pemilik nomor lewat kode yang dikirim via SMS. Di Whatsapp, kita harus membuktikan bahwa kitalah pemilik akunnya dengan kewajiban men-scan QR code dari aplikasi Whatsapp di smartphone android kita.

Telegram itu berbasis cloud, karena itu, mereka harus membentengi kepercayaan pengguna dengan enkripsi client-server maupun server-client. Telegram juga masih dan akan selalu gratis, setidaknya menurut pendirinya. Ini jika ingin dibandingkan dengan Whatsapp yang menarik bayaran per tahun.

LSD, Generasi Bunga, Srudukan Maut Outlander di Pondok Indah

Dikutip dari Wikipedia:

Asam lisergat dietilamida (LSD) merupakan suatu jenis narkotika halusinogen. Obat ini bersifat psikedelik dari keluarga ergolina.

Diperkenalkan oleh Sandoz Laboratories (kini Novartis), dengan nama dagang Delysid, sebagai obat dengan berbagai penggunaan psikiatrik pada tahun 1947, LSD segera menjadi agen terapi yang nampak menimbulkan harapan besar.

LSD relatif bersifat tidak adiktif, dan toksisitas rendah (katanya...). LSD banyak dikenal atas efek psikologisnya yang menyebabkan tertutup/terbukanya mata, perasaan distorsi waktu, kematian ego dan pergeseran kognitif yang dalam, serta berperan penting dalam kontrabudaya tahun 1960 atau pada masa generasi bunga (flower generation).

Dosis tunggal asam lisergat dietilamida berkisar antara 100-500 mikrogram. Jumlah tersebut hampir setara dengan 1/10 massa sebutir pasir. Cara pengkonsumsiannya bisa diemut atau ditempel.

Reaksi fisik pada LSD bervariasi dan tak spesifik. Gejala berikut telah dilaporkan: konstraksi rahim, hipotermia, demam, kenaikan kadar gula darah, tegaknya bulu roma, peningkatan curah jantung, cengkeraman rahang, perspirasi, midriasis (dilatasi pupil), produksi air liur dan lendir, suhad (rasa tak dapat tidur), dan hiperefleksia, dan tremor. Terdapat beberapa indikasi bahwa LSD dapat menimbulkan keadaan fuga disosiatif pada orang-orang yang mengonsumsi beberapa jenis antidepresan tertentu seperti garam litium dan trisiklik.

Mahasiswa masa kini memang menang keren kayaknya, dibanding mahasiswa belasan tahun lalu. Orang tua kaya, hura-hura, mobil besar dan mahal, gaya hidup yang lebih bebas. Ralat: soal hura-hura, sejak jaman dulu sudah ada sih. Pake disco dan breakdance.